Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Sementara itu, pengalaman Thomas di bidang ekonomi di antaranya adalah menjadi analis keuangan di NatWest Market, Jakarta, pada 1996 dan konsultan di Castle Asia pada 1999. Dia juga sempat berkarier di Comexindo Internasional selama 2010-2024 serta di Arsari Group pada 2011-2024.
Menurut laman resmi Kementerian Keuangan, Thomas tercatat sebagai alumni sarjana Studi Sejarah di Haverford College, Amerika Serikat, pada 1994. Pada 2003, dia meraih gelar Master of Arts di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat.
Penyebab rupiah melemah
Menurut analisis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong, melemahnya nilai tukar rupiah tidak terlepas dari kekhawatiran pasar terhadap prospek defisit anggaran yang berpotensi melewati batas 3 persen dan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan BI. Kedua faktor tersebut mendorong investor bersikap lebih defensive terhadap aset berdenominasi rupiah.
"Penyebabnya masih sama, kekuatiran defisit anggaran melewati 3 persen dan prospek pemangkasan suku bunga BI," kata dia, dilansir dari Kompas.com, Senin (19/1/2026).
Lukman menambahkan, nasib rupiah bergantung pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Arah komunikasi kebijakan BI selanjutnya akan nilai menentukan persepsi pasar, khususnya terkait komitmen menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.
Lukman memprediksi, hingga saat ini, ada potensi nilai tukar Rupiah terhadap dollar tembus di Rp 17.000, tetapi kemungkinan tersebut belum tentu terjadi.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) kemungkinan tidak direspons positif oleh pasar.
Tonton: Prospek Bitcoin vs Emas 2026: Aset Aman Mana?
”Saya khawatir market tidak memberikan respons positif terhadap beliau. Ini juga akan berpengaruh pada rupiah kita yang nanti bisa semakin tertekan. Sekarang saja sudah nyaris ke Rp 17.000 per dolar AS,” ujarnya, dikutip dari Kompas.id.
Persoalan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Bhima sendiri menyebut, secara historis, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sangat sulit kembali di bawah Rp 16.700.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Apa yang Terjadi jika Rupiah Melemah dan Tembus Rp 17.000? Ini Kata Ekonom"
Selanjutnya: Promo JSM Superindo Periode 23-25 Januari 2026, Buah Naga-Kecap ABC Diskon hingga 60%
Menarik Dibaca: Promo JSM Superindo Periode 23-25 Januari 2026, Buah Naga-Kecap ABC Diskon hingga 60%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













