kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.893   23,00   0,14%
  • IDX 8.885   -0,10   0,00%
  • KOMPAS100 1.232   5,72   0,47%
  • LQ45 874   7,20   0,83%
  • ISSI 324   0,25   0,08%
  • IDX30 446   5,56   1,26%
  • IDXHIDIV20 530   9,50   1,83%
  • IDX80 137   0,76   0,56%
  • IDXV30 146   2,23   1,55%
  • IDXQ30 143   1,91   1,35%

Anggaran revolusi mental Rp 149 M dipertanyakan


Jumat, 27 Maret 2015 / 21:18 WIB
Anggaran revolusi mental Rp 149 M dipertanyakan
ILUSTRASI. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut aset keuangan syariah Indonesia mencatatkan kinerja positif.


Sumber: Kompas.com | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Peneliti Indonesian Institute for Development and Democracy (Inded) Arif Susanto mengatakan, pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla telah menganggarkan ratusan miliar di dalam APBN untuk anggaran revolusi mental. Namun, realisasi dari penggunaan anggaran itu hingga kini masih belum tampak.

"Rp 149 miliar untuk revolusi mental, apa yang sudah dihasilkan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan?" kata Arif saat diskusi bertajuk "Pak Jokowi: Rakyat Mulai Resah!" di Jakarta, Jumat (27/3/2015).

Menurut Arif, revolusi mental seharusnya dimulai dari ruang-ruang kekuasaan. Jokowi-JK seharusnya mengubah orientasi kekuasaan, dari melayani elit menjadi melayani rakyat. Tanpa ada niat dari Jokowi-JK untuk melakukan hal itu, maka mimpi dan janji mereka untuk mewujudkan negara yang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan hanya akan menjadi jargon kampanye semata.

"Keresahan rakyat adalah suatu alarm bahaya. Dukungan rakyat bukanlah garansi seumur hidup, tapi basis legitimasi yang harus diperbarui. Untuk itu ini menjadi momentum Jokowi-JK untuk melakukan perubahan tersebut," ujarnya. (Dani Prabowo)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×