kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Revolusi mental Jokowi gagal, jika menteri tua-tua


Sabtu, 18 Oktober 2014 / 14:06 WIB
ILUSTRASI. Direktur Utama PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) Juliawati Gunawan Halim saat paparan publik di Jakarta (1/3/2022).


Sumber: TribunNews.com | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Revolusi mental presiden terpilih Joko Widodo jangan hanya sebagai jargon kosong tanpa keteladanan yang diperlihatkan kabinetnya.

Psikolog Politik UI Dewi Haroen menilai, jika para menteri yang menjadi pembantunya adalah kaum tua dan mengulang praktik korupsi, revolusi mental tidak akan mungkin terwujud.

"Sebaiknya, revolusi mental itu diarahkan memperdalam  penghayatan nilai-nilai Pancasila dan profesionalitas bukan kaum tua," kata Dewi dalam keterangan persnya, Sabtu (18/10/2014).

Revolusi mental itu, kata Dewi,  membutuhkan keteladanan. Kalau tidak ada keteladanan tidak memiliki arti apa-apa. Mestinya revolusi mental itu diarahkan menghayati nilai-nilai yang terkandung Pancasila di dalamnya.

"Jadi Revolusi mental itu bukan kaum tua apalagi perwakilan dari partai politik yang akan duduk di kabinet, apalagi figur yang tidak memiliki kompetensi. Karena banyak kader muda di luar partai yang mempunyai profesionalitas dan kapabilitas di berbagai bidang," tandasnya. (Muhammad Zulfikar)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×