kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.882   6,00   0,03%
  • IDX 6.374   105,97   1,69%
  • KOMPAS100 836   13,50   1,64%
  • LQ45 634   8,05   1,29%
  • ISSI 220   3,58   1,65%
  • IDX30 354   2,96   0,84%
  • IDXHIDIV20 429   0,94   0,22%
  • IDX80 95   1,52   1,62%
  • IDXV30 118   0,42   0,35%
  • IDXQ30 112   0,52   0,46%

Analis: Pernyataan Menkeu dan BI memperburuk pasar


Rabu, 28 Agustus 2013 / 16:18 WIB
ILUSTRASI. Kripto. REUTERS/Florence Lo/Illustration


Reporter: Dyah Megasari |

JAKARTA. Pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo dan Menteri Keuangan M. Chatib Basri terkait perekonomian Indonesia justru membuat pasar bergejolak.

Head of Research Division Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menyatakan ada sejumlah pernyataan dari Gubernur BI dan Menkeu yang membuat pemodal menjadi tidak confidence terhadap perekonomian Indonesia.

"Salah satunya ketika Gubernur BI menyatakan inflasi bisa naik menjadi 8,8% karena kenaikan harga BBM. Kemudian pernah juga Menkeu mengatakan inflasi bisa lebih tinggi lagi. Ini kan membuat panik," jelasnya, Rabu (28/8/2013).

Menurutnya, yang diperlukan saat ini adalah bagaimana meyakinkan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Dia menjelaskan, dalam kondisi turbulensi seperti saat ini, faktor psikologis sangat dominan dalam mempengaruhi keputusan investor. Seluruh informasi negatif akan direspon dengan melepaskan saham-saham di bursa.

"Padahal, ekonomi Indonesia masih cukup baik. Sepanjang inflasi tidak menyentuh dua digit, saya kira wajar dan tidak terlalu dibesar-besarkan," jelasnya.

Dia mengatakan, jatuhnya bursa dan melemahnya rupiah lantaran investor tidak percaya dengan perekonomian nasional. Padahal, secara fundamental, ekonomi Indonesia masih cukup baik.

Sementara itu, Menkeu Chatib Basri juga sempat menyatakan bahwa pelemahan rupiah masih akan berlanjut hingga awal tahun 2014.

Dalam paparannya, Chatib menyebutkan empat faktor eksternal yang akan memberikan tekanan pada rupiah. Pertama adalah kebijakan pengetatan stimulus moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat yang diperkirakan dikeluarkan pada akhir tahun 2013.

Kedua, muncul kekhawatiran investor terhadap perkembangan ekonomi di negara-negara emerging market, terutama China, India, dan Brasil. Ini berdampak pada aktivitas transaksi perekonomian di pasar internasional.

Ketiga, gejolak harga minyak dunia akibat gejolak geopolitik beberapa negara produsen di kawasan Timur Tengah. Keempat, mengecilnya selisih suku bunga Bank Indonesia dan suku bunga dunia sehingga membuat investor mulai tertarik untuk mengalihkan modal ke Indonesia.

Akan tetapi, belakangan dia membantah telah mengeluarkan penjelasan itu. (Bambang P Jatmiko)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×