Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, Indonesia harus waspada akan sejumlah hal yang bisa memengaruhi tekanan peningkatan harga (inflasi) ke depan.
David memerinci, salah satu yang harus diwaspadai adalah tingkat inflasi energi. “Yang dipicu oleh harga minyak mentah bahkan ada potensi konflik di Ukraina yang membuat harga energi relatif tinggi,” ujar David kepada Kontan.co.id, Rabu (2/2).
Apalagi, peningkatan harga energi ini kemudian berkaitan erat dengan aktivitas konsumsi masyarakat sehari-hari. Seperti konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM), LPG, bahkan kebutuhan listrik.
Baca Juga: Langkah Kemenkeu Respons Inflasi untuk Jaga Daya Beli Masyarakat
Bila harga energi global naik dan kemudian mendorong harga energi di dalam negeri meningkat, maka ini akan memengaruhi tingkat inflasi.
Selain memengaruhi tingkat inflasi, peningkatan harga energi bila dibarengi dengan peningkatan volume permintaan, bisa meningkatkan belanja pemerintah sehingga kemudian akan muncul risiko fiskal.
“Mungkin awalnya nanti ditanggung oleh BUMN energi, tetapi lama-lama bisa saja mereka akan minta suntikan modal dan ini akan memengaruhi APBN secara tidak langsung. Khawatir ada risiko fiskal,” tambah David.
Baca Juga: BPS: Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Naik 0,75% pada Januari 2022
Selain risiko peningkatan harga energi, David juga melihat adanya risiko inflasi dari kenaikan suku bunga kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) yang kemudian menimbulkan inflasi impor (imported inflation).
David juga melihat, adanya potensi risiko inflasi dari peningkatan harga pangan, terutama di momen-momen tertentu.
Baca Juga: Begini Arah Kebijakan KSSK Hadapi Pandemi pada 2022
Untuk itu, dalam menjaga tingkat inflasi, David meminta agar pemerintah menjaga tingkat harga dengan berbagai cara, seperti menjamin ketersediaan bahan pokok terutama menjelang hari raya.
Lebih lanjut, David memperkirakan tingkat inflasi di akhir tahun akan berada di level 3,3% yoy. Namun, secara rata-rata inflasi di tahun 2022 akan berada di kisaran 2,9% yoy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













