Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memproyeksikan realisasi investasi pada kuartal II-2026 akan menghadapi tantangan berat. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang berpotensi menekan arus modal masuk ke tanah air.
Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menjelaskan bahwa meskipun capaian investasi di kuartal I-2026 tergolong sangat baik, kondisi ke depan akan sangat berbeda. Hal ini disebabkan karena pelaku usaha kini mulai benar-benar merasakan paparan dampak konflik tersebut.
"Realisasi investasi di kuartal II dan seterusnya di tahun ini kemungkinan besar akan berbeda karena kita sudah benar-benar ter-expose dengan beban-beban konflik yang terjadi," ujar Shinta pada Kontan.co.id, Rabu (22/4/2026).
Baca Juga: Gubernur BI: Rupiah Sudah Undervalued, Diproyeksi Menguat Seiring Fundamental Ekonomi
Shinta memaparkan bahwa capaian positif di awal tahun terjadi karena adanya delayed effect atau dampak yang tertunda. Saat itu, krisis migas belum memuncak dan pasokan masih terjaga oleh kapal-kapal tanker yang sudah dalam perjalanan sebelum konflik pecah.
Namun, situasi kini berubah drastis seiring dengan meningkatnya inflasi beban usaha dan tekanan pada nilai tukar rupiah yang semakin dalam. Kondisi ini secara otomatis mengubah seluruh perhitungan proyeksi beban investasi di sektor riil.
"Akibatnya, pelaku usaha dan investor pun jadi menahan diri dan menunda ekspansi usaha atau investasi," tegas Shinta.
Baca Juga: BI: Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat Hadapi Dampak Perang Timur Tengah
Menurut Shinta, Indonesia akan lebih sulit mencetak realisasi investasi yang tinggi jika hanya mengandalkan kebijakan yang bersifat status quo. Diperlukan inovasi atau perubahan iklim usaha yang substansial untuk mengompensasi tantangan geopolitik yang ada.
Selain faktor eksternal, Apindo juga memberikan catatan kritis mengenai kualitas investasi di dalam negeri. Secara objektif, investasi per kapita Indonesia dinilai masih tertinggal jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Vietnam atau Thailand.
Rendahnya investasi per kapita ini menjadi alasan mengapa pertumbuhan investasi belum mampu menciptakan lonjakan lapangan kerja yang signifikan di dalam negeri. Padahal, potensi ekonomi yang belum tergarap masih sangat besar.
"Kita perlu iklim usaha yang semakin efisien dan kompetitif. Kita perlu menjaga kinerja yang baik ini dengan inovasi iklim investasi yang sesuai dengan kebutuhan di tengah kondisi geopolitik yang kurang menguntungkan ini," jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi /Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) Rosan Roeslani mencatat realisasi
investasi kuartal I tahun 2026 tembus Rp 498,7 triliun. Jumlah ini telah melampaui target pemerintah yang ditetapkan Rp 497 triliun.
Rosan mengatakan dari jumlah tersebut hampir 50% merupakan Penanaman Modal Asing (PNM) atau mencapai Rp 249,94 triliun.
Secara rinci, Rosan menyebutkan lima besar negara-negara yang menanamkan modalnya ke tanah air diantaranya adalah Singapura yang mencapai US$ 4,6 miliar, Hongkong US$ 2,7 miliar, Tiongkok US$ 2,2 miliar, Amerika Serikat US$ 1,7 miliar dan Jepang US$ 1 miliar.
"Dan saya mau sampaikan komposisi investasi ini luar Jawanya mencapai 50,37% dan Jawanya 49,63% atau setara Rp 247,53 triliun," lanjut Rosan.
Rosan mengklaim realisasi investasi ini turut berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja yang mencapai 706.569 orang, naik 18,93% secara year on year.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













