Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkapkan kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) berpotensi meluas imbas kasus kemarau ekstrem atau el-nino di tahun ini.
Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki mencatat kasus karhutla telah mencapai 81.000 hektare pada periode Januari hingga Mei tahun 2026. Menurutnya jumlah ini juga mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada lima tahun sebelumnya.
"Ini kalau dibandingkan dengan periode yang sama pada 5 tahun sebelumnya, ternyata lebih besar. Jadi ini membuktikan bahwa kita harus meluas pada El Nino pada tahun 2026," kata Rohmat dalam Peringatan Hari Penanggulangan Degredasi Lahan dan Kekeringan di Kantor Kemenhut (1/7/2026).
Baca Juga: Indonesia Masih Punya 12,3 Juta Hektare Lahan Kritis, Ini Target Pemulihannya
Menurutnya, El-Nino masih menjadi tantangan pemerintah dalam penanganan degradasi hutan dan lahan di Indonesia.
Untuk itu, Rohmat berharap ada kolaborasi semua pihak untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan agar tidak menyebabkan peningkatan lahan yang terdegradasi secara signifikan.
Rohmat menyebut, rehabilitasi hulu sungai hingga waduk menjadi prioritas utama agar dampak kekeringan dapat dimitigasi.
"Jika masih ada potensi hujan atau sudah masuk pada musim hujan, maka kita harus mengoptimalkan penanaman pohon atau rehabilitasi," tegas Rohmat.
"Selain itu juga kita perlu memperbaiki praktek pengolahan lahan dengan zero burning atau praktek pengolahan lahan tanpa membakar,"tambahnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai kategori kuat pada tahun 2026.
Baca Juga: BPS: Inflasi Tahunan Juni 2026 Naik Jadi 3,34%, Dipicu Kenaikan Harga Pangan
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, El Nino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen, sehingga berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau.
"Fenomena El Nino merupakan fenomena iklim global yang mempengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa El Niño dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda. Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Niño terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau,” ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Faisal menjelaskan bahwa El Nino diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. Namun demikian, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode tersebut.
Menurut Faisal, wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling signifikan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan berada di bawah normal dibandingkan rata-rata klimatologis.
Selain berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air, El Nino juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi polutan, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













