Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memprediksi kemunculan fenomena Super El Nino pada Oktober 2026 sampai dengan Februari 2027.
El Nino adalah kondisi di mana suhu air di Samudra Pasifik dekat khatulistiwa menjadi sangat hangat.
Kondisi ini memicu perubahan cuaca yang signifikan di seluruh penjuru dunia.
Data NOAA menyebut, Super El Nino 2026 diprediksi serupa dengan yang terjadi pada 2023 hingga 2024.
Profesor Universitas Albany dan ahli El Nino, Paul Roundy mengatakan, El Nino tahun ini mendekati kondisi yang terjadi pada 1997, saat El Nino terbesar terjadi.
Meski demikian, El Nino yang lebih kuat tidak selalu menjamin dampak yang kuat pula.
“Peristiwa tersebut hanya dapat membuat dampak tertentu menjadi lebih mungkin terjadi,” kata dia, dilansir dari People.
Sektor yang terdampak El Nino bukan hanya pola cuaca, tetapi juga hasil pertanian hingga ketahanan pangan.
Ekonom peringatkan harga pangan naik
Pengamat ekonomi Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta Kartabi, memperingatkan bahwa ancaman fenomena El Nino bisa memengaruhi komoditas pangan Indonesia.
Sebagai gambaran, harga beras saat ini saja sudah naik, meski cadangan stok diklaim melimpah.
"Fakta di lapangan bahwa harga beras itu naik di 111 kabupaten/kota. Jadi menurut saya kita harus prepare karena katanya ini El Nino yang cukup berat," ucapnya, saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu (20/5/2026).
Acuviarta memperingatkan, kondisi tersebut bisa memengaruhi harga komoditas pangan Indonesia yang impor.
Menurutnya, kombinasi stabilitas makro ekonomi saat ini dan perubahan cuaca memaksa Indonesia berada di posisi yang buruk.
"Ada gangguan produksi pasti dan implikasinya pasti harga. Saya kira seperti itu ya," imbuhnya.
Upaya BMKG
Sementara itu, Sekretaris Utama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Guswanto memaparkan perkembangan El Nino tahun ini.
Dia menjelaskan, dinamika iklim global, termasuk peluang berkembangnya fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) menuju fase positif.
Kondisi ini berpotensi menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Diperkirakan, hal itu dapat meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, karhutla, hingga gangguan pada sektor pangan dan sumber daya air.
Dia menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau harus dilakukan lebih dini dan berbasis data serta prediksi iklim yang akurat.
“Dalam menghadapi musim kemarau tahun ini, upaya antisipasi harus dilakukan sejak awal, termasuk memperkuat koordinasi lintas sektor dan memastikan informasi peringatan dini tersampaikan hingga tingkat daerah,” ucapnya, dilansir dari laman BMKG.
Baca Juga: Suku Bunga BI Naik 50 Bps, Ini Dampaknya ke Cicilan Rumah, Mobil, dan Daya Beli
Saat ini, BMKG akan terus mengembangkan layanan prediksi cuaca dan iklim untuk mendukung pengambilan keputusan pemerintah daerah maupun sektor teknis.
Adapun layanan prediksi BMKG telah mampu memberikan informasi hingga tingkat desa dan kelurahan.
BMKG juga memperkuat kemampuan pemantauan cuaca melalui radar cuaca dan sistem prakiraan berbasis nowcasting guna meningkatkan akurasi informasi cuaca ekstrem dan potensi hujan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut dilakukan untuk mengatasi dampak El Nino tahun ini.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan setiap pelaksanaan OMC perlu direncanakan berdasarkan kondisi cuaca dan potensi pertumbuhan awan beberapa hari sebelumnya, serta dilakukan melalui koordinasi intensif dengan bidang meteorologi dan instansi terkait.
Dia menambahkan, pelaksanaan OMC dilakukan sesuai kebutuhan penanganan di lapangan dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi cuaca di wilayah sasaran.
Tabel: Potensi Dampak Super El Nino 2026 di Indonesia
| Dampak | Penjelasan |
|---|---|
| Penurunan curah hujan | Berpotensi terjadi di banyak wilayah Indonesia |
| Risiko kekeringan meningkat | Terutama saat musim kemarau |
| Ancaman karhutla | Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat |
| Gangguan produksi pangan | Produksi pertanian dapat terganggu |
| Harga pangan berpotensi naik | Termasuk beras dan komoditas impor |
| Tekanan terhadap daya beli | Harga kebutuhan pokok bisa meningkat |
| Gangguan sumber daya air | Pasokan air berpotensi menurun |
| Dampak ekonomi dan sosial | Berpotensi memengaruhi perekonomian masyarakat |
Sekilas tentang El Nino
Untuk memahami dampak fenomena ini, masyarakat perlu mengetahui bagaimana El Nino terbentuk dan pengaruhnya terhadap Indonesia.
Mengutip laman cews.bmkg.go.id, istilah El Niño berasal dari bahasa Spanyol yang artinya ”anak laki-laki”.
El Niño awalnya digunakan untuk menandai kondisi arus laut hangat tahunan yang mengalir ke arah selatan di sepanjang pesisir Peru dan Ekuador saat menjelang Natal.
Kondisi yang muncul berabad-abad lalu ini dinamai oleh para nelayan Peru sebagai El Niño de Navidad yang disamakan dengan nama Kristus yang baru lahir.
Menghangatnya perairan di wilayah Amerika Selatan ini ternyata berkaitan dengan anomali pemanasan lautan yang lebih luas di Samudera Pasifik bagian timur, bahkan dapat mencapai garis batas penanggalan internasional di Pasifik tengah.
Tonton: Moody’s dan S&P Peringatkan Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Peringkat RI Bisa Terpangkas
Dampak El Nino
El Nino pada bulan Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON) menyebabkan penurunan curah hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Pada Desember-Januari-Februari (DJF), El Nino umumnya berpengaruh pada menurunnya curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Sedangkan pada Maret-April-Mei (MAM), pengaruh El Nino pada curah hujan sangat beragam di berbagai wilayah di Indonesia.
El Niño kuat dalam sejarah juga tercatat pernah terjadi pada tahun 1997.
Curah hujan tiga bulanan di Indonesia mengalami pengurangan yang sangat drastis sebagai dampak dari kejadian ini dan umumnya jauh lebih rendah dibandingkan rata-ratanya.
Beberapa wilayah Indonesia terutama di Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua bahkan mengalami curah hujan yang sangat rendah (extremely low rainfall) sepanjang tahun El Niño tersebut.
Apakah saat El Nino tidak akan ada hujan sama sekali?
El Nino memang berpengaruh dalam menurunkan curah hujan di wilayah Indonesia, terutama pada periode musim Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON) hingga lebih dari 40 persen.
Namun, di beberapa wilayah Indonesia justru dapat mengalami peningkatan curah hujan pada periode Desember-Januari-Februari (DJF) dan Maret-April-Mei (MAM) meskipun sedang terjadi El Nino.
Karena itu, El Nino tidak berarti hujan akan hilang sepenuhnya, melainkan terjadi penurunan curah hujan yang cukup signifikan.
Bencana yang mungkin terjadi saat El Nino
Bencana yang mungkin terjadi saat El Nino secara umum adalah bencana hidrometeorologi.
Saat El Nino, risiko bencana yang meningkat antara lain kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Kekeringan berkepanjangan juga dapat berdampak lebih luas terhadap sektor pertanian, ekonomi, dan sosial masyarakat.
(Alinda Hardiantoro, Albertus Adit)
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/22/063000965/fenomena-super-el-nino-2026-ekonom-peringatkan-kenaikan-harga-pangan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













