Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – MADINAH. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 menyiapkan klinik satelit di setiap sektor wilayah kerja Madinah yang terdiri dari 5 sektor, guna memastikan jemaah haji Indonesia mendapatkan layanan kesehatan secara cepat dan mudah selama berada di Kota Nabi.
Salah satu klinik satelit tersebut berada di Sektor 2 yang berlokasi di Hotel Durrat Al Eiman. Klinik ini menjadi tempat rujukan awal bagi jemaah yang mengalami gangguan kesehatan ringan hingga sedang sebelum memerlukan penanganan lebih lanjut.
Koordinator Tim Kesehatan Sektor 2 Madinah PPIH Arab Saudi 2026, dr. Fitri Indahyanti, Sp.P, menjelaskan bahwa klinik satelit tersedia di seluruh sektor pelayanan jemaah di Madinah.
Baca Juga: Prabowo Akan Merenovasi 400 Rumah Sakit dan 10.000 Puskesmas Dalam 3 Tahun
"Di Madinah ada lima sektor. Di setiap sektor terdapat klinik satelit nanti jamaah-jamaah di hotel tersebut bisa periksa untuk mendatangi dokter-dokter yang jaga ya, yang jaga di klinik tersebut untuk menyampaikan keluhan-keluhannya selama pelayanan atau jamaah haji ini berada di Medina,” tutur Fitri kepada Media Center Haji, Rabu (10
Menurut dia, layanan yang diberikan di klinik satelit bersifat rawat jalan. Jemaah yang mengalami keluhan kesehatan ringan maupun sedang dapat langsung berkonsultasi dengan dokter dan tenaga kesehatan yang bertugas.
Namun, apabila kondisi jemaah dinilai memerlukan penanganan lebih intensif, petugas akan merujuk pasien ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) atau rumah sakit Arab Saudi.
"Kalau keluhannya masih ringan sampai sedang, bisa kami tangani di sini. Tetapi jika sudah mengarah ke kondisi yang lebih berat, kami rujuk ke KKHI atau rumah sakit Arab Saudi," katanya.
Klinik satelit beroperasi selama 24 jam dengan sistem tiga sif, yakni pagi, siang, dan malam. Untuk sif pagi dan siang, pelayanan diperkuat oleh tenaga kesehatan haji kloter (TKH) yang dijadwalkan secara bergantian dari berbagai kelompok terbang.
Sementara pada malam hari, petugas kesehatan sektor mengambil alih pelayanan karena mereka menetap di lokasi yang sama dengan klinik satelit.
"Dokter dan perawat kloter kami jadwalkan bergantian. Misalnya dokter dari satu kloter dan perawat dari kloter lain. Dengan begitu mereka tetap bisa melayani jemaah di hotel masing-masing sekaligus membantu pelayanan di klinik satelit," jelasnya.
Seiring kedatangan jemaah gelombang kedua ke Madinah, jumlah kunjungan ke klinik satelit terus meningkat. Jika pada hari-hari awal hanya melayani beberapa pasien, kini jumlah kunjungan dalam sehari bisa mencapai lebih dari 20 orang.
Baca Juga: Ekonom: Masyarakat Miskin Jadi Pelaku Ekonomi, Bukan Sekadar Penerima Bansos
Fitri mengungkapkan, sebagian besar jemaah yang datang berobat mengeluhkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), seperti batuk, pilek, radang tenggorokan, serta keluhan kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah haji di Makkah dan Armuzna.
"Keluhan yang paling banyak adalah batuk pilek, nyeri tenggorokan, dan gangguan saluran pernapasan atas. Selain itu banyak juga jemaah yang merasa kelelahan karena aktivitas selama puncak haji cukup menguras tenaga," katanya.
Untuk mendukung pelayanan tersebut, klinik satelit menyediakan berbagai kebutuhan obat-obatan yang disuplai melalui KKHI Madinah. Obat yang paling banyak disiapkan antara lain obat flu, batuk, radang tenggorokan, vitamin, hingga cairan infus bagi jemaah yang membutuhkan pemulihan kondisi tubuh.
Fitri mengimbau jemaah, terutama lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, agar tidak menunda pemeriksaan ketika mulai merasakan keluhan kesehatan.
Menurutnya, penanganan sejak dini menjadi kunci agar kondisi jemaah tidak berkembang menjadi lebih berat dan memerlukan perawatan lanjutan di rumah sakit.
"Kami selalu mengingatkan tenaga kesehatan kloter agar segera membawa jemaah yang memiliki keluhan, terutama lansia. Jangan menunggu sampai kondisinya berat. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang jemaah pulih dan bisa kembali beraktivitas dengan nyaman," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













