Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Struktur kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan serius. Data Mandiri Institute menunjukkan, struktur demografi ekonomi Indonesia tengah mengalami pergeseran signifikan. Tercatat, 86 juta orang atau 1 dari 3 penduduk Indonesia tergolong ke dalam kelompok kelas menengah transisi atau transitional middle class.
Kelompok yang mencakup upper aspiring middle class (AMC) atau kelompok menuju kelas menengah dan lower middle class (MC) atau kelas menengah bawah, ini memiliki karakteristik mobilitas yang sangat dinamis namun rentan.
Data periode 2019 hingga 2025 menunjukkan kelompok lower MC mengalami penurunan jumlah hingga lebih dari 11 juta orang, sementara kelompok upper AMC cenderung stagnan di bawah ambang batas kelas menengah. Di sisi lain, kelompok menengah atas (middle MC dan upper MC) justru mencatat kenaikan sebesar 416 ribu orang.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, kelas menengah bawah selama ini lebih banyak membelanjakan pendapatannya untuk barang habis pakai seperti pangan dan kebutuhan sehari-hari, sementara konsumsi barang tahan lama seperti elektronik, kendaraan roda dua, hingga layanan pendidikan dan kesehatan yang lebih mahal justru ditopang oleh kelas menengah yang lebih mapan.
Baca Juga: Ekonomi RI Tahan Guncangan, Tapi 86 Juta Kelas Menengah Transisi Masih Rentan
Karena itu, ia menilai ketika terjadi penurunan kelas dari middle class ke aspiring middle class, dampaknya bukan hanya soal penurunan daya beli, tapi juga perubahan perilaku konsumsi yang menjadi jauh lebih hati-hati.
Yusuf menyebut, rumah tangga yang mengalami tekanan pendapatan akan menunda pembelian barang tahan lama, mengurangi pengeluaran besar, dan mengalihkan belanja ke kebutuhan esensial, sehingga dorongan konsumsi terhadap sektor seperti ritel modern dan manufaktur langsung melemah, meskipun konsumsi barang habis pakai relatif bertahan namun tidak cukup kuat untuk menopang pertumbuhan secara keseluruhan.
Di saat yang sama, terdapat juga melihat fenomena kelompok upper aspiring middle class yang posisinya serba tanggung, karena mereka sudah terlalu mampu untuk menerima bantuan sosial penuh tetapi belum cukup kuat untuk mandiri secara finansial. Alhasil kelompok tersebut dinilai menciptakan tekanan fiskal, yang mana beban subsidi sulit ditekan sementara kontribusi pajak dari kelompok ini juga belum optimal.
“Dampak lain yang sering terabaikan justru ada pada jangka panjang, yaitu ketika rumah tangga yang terdegradasi mulai mengorbankan pengeluaran pendidikan dan kesehatan anak, yang berpotensi menciptakan jebakan kemiskinan antargenerasi dan dalam 15 hingga 20 tahun ke depan dapat tercermin pada stagnasi produktivitas tenaga kerja,” tutur Yusuf kepada Kontan, Minggu (12/4/2026).
Yusuf menilai, permasalahan yang terjadi pada sulitnya kelompok transisi menuju kelas menengah tersebut adalah bersifat struktural dan saling mengunci, dimulai dari tingginya informalitas pasar kerja yang membuat banyak kelompok aspiring dan lower middle class tidak memiliki kepastian pendapatan, akses pembiayaan yang layak, maupun perlindungan saat terjadi guncangan, sebagaimana terlihat jelas saat pandemi ketika mereka menjadi kelompok yang paling cepat jatuh dan paling lama pulih.
Baca Juga: Daya Beli Kelas Menengah Tergerus, Jadi Ancaman Serius Bagi Ekonomi Indonesia
Di sisi lain, keterbatasan akses terhadap aset produktif memperkuat jebakan tersebut karena tanpa aset mereka tidak bisa mengakses kredit, dan tanpa kredit mereka tidak bisa membangun aset, yang menunjukkan bahwa sistem keuangan belum sepenuhnya inklusif.
Tekanan juga datang dari kenaikan biaya hidup, terutama pada komponen pangan, pendidikan, dan kesehatan yang porsinya besar dalam pengeluaran kelompok bawah dan sering kali meningkat lebih cepat dari inflasi rata-rata, sehingga meskipun pendapatan nominal naik, daya beli riil tetap tergerus.
“Selain itu, terjadi mismatch keterampilan akibat digitalisasi dan otomasi yang menggerus pekerjaan rutin, sementara pekerjaan baru membutuhkan keterampilan yang belum dimiliki, membuat kelompok ini terjepit dari dua arah,” ungkapnya.
Meski demikian, Yusuf melihat tantangan terbesar adalah pada deindustrialisasi dini, yang mana kontribusi manufaktur terhadap ekonomi melemah sebelum Indonesia mencapai tingkat pendapatan tinggi, padahal sektor ini secara historis merupakan jalur utama mobilitas sosial karena mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan menengah dalam jumlah besar dengan upah yang relatif stabil, sehingga ketika sektor manufaktur tidak berkembang, kelompok aspiring dan lower middle class kehilangan tangga paling realistis untuk naik kelas.
Baca Juga: Ekonomi Lesu dan Kekhawatiran Meningkat, Kelas Menengah Tahan Beli Mobil, Simpan Emas
Menghadapi permasalahan ini, Yusuf menyebut, respons kebijakan tidak bisa parsial dan harus dilakukan secara simultan, dimulai dari reformasi perlindungan sosial yang lebih adaptif agar mampu menjangkau kelompok rentan yang belum terklasifikasi sebagai miskin, kemudian transformasi sektor informal melalui penyederhanaan regulasi dan pengembangan skema pembiayaan yang tidak bergantung pada agunan, termasuk pemanfaatan credit scoring berbasis data digital.
Sejalan dengan itu, investasi pada pendidikan vokasional harus benar-benar terhubung dengan kebutuhan industri dengan model pelatihan yang fleksibel dan aplikatif, sementara agenda reindustrialisasi perlu difokuskan pada pengembangan manufaktur bernilai tambah menengah yang mampu menyerap tenaga kerja dalam skala besar, termasuk melalui pendalaman hilirisasi berbasis sumber daya alam dan penguatan industri antara.
Pada saat yang sama, kebijakan terkait harga aset, khususnya properti, perlu dibenahi agar tidak semakin menutup akses kelas menengah bawah terhadap kepemilikan aset, melalui kombinasi reformasi pajak yang lebih progresif, peningkatan pasokan hunian terjangkau, dan pembatasan spekulasi.
“Karena tanpa perbaikan di sisi ini, mobilitas sosial akan semakin terhambat di tengah tekanan struktural yang sudah ada,” tandasnya.
Baca Juga: Kelas Menengah Menyusut, Mesin Pajak Indonesia Ikut Melemah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













