kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.985   10,00   0,06%
  • IDX 7.337   -248,32   -3,27%
  • KOMPAS100 1.020   -39,17   -3,70%
  • LQ45 751   -25,47   -3,28%
  • ISSI 257   -9,75   -3,65%
  • IDX30 397   -12,77   -3,11%
  • IDXHIDIV20 493   -13,82   -2,73%
  • IDX80 115   -4,19   -3,52%
  • IDXV30 133   -4,17   -3,04%
  • IDXQ30 129   -4,15   -3,13%

Ekonomi Lesu dan Kekhawatiran Meningkat, Kelas Menengah Tahan Beli Mobil, Simpan Emas


Senin, 09 Maret 2026 / 20:17 WIB
Ekonomi Lesu dan Kekhawatiran Meningkat, Kelas Menengah Tahan Beli Mobil, Simpan Emas
ILUSTRASI. Menurunnya Jumlah Kelas Menengah Menjadi Gejala Krisis Ekonomi (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonomi yang lesu semakin terasa.  Masyarakat kelas menengah mulai menahan pengeluaran untuk pembelian barang bernilai besar, termasuk mobil. Sebagian dari mereka berjaga-jaga, mengalihkan dana ke instrumen investasi yang  aman, seperti emas.

Kondisi tersebut turut memlpengaruhi penjualan mobil di pasar domestik. Banyak konsumen kelas menengah memilih menunda pembelian mobil baru karena mempertimbangkan kondisi keuangan yang semakin ketat.

Kepala Ekonom Bank Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, saat ini terdapat kecenderungan masyarakat mengalihkan dana yang sebelumnya untuk konsumsi besar ke investasi emas.

“Pada saat situasi global tidak pasti, orang cenderung menahan uang. Saat ini ada kecenderungan membeli emas karena harganya terus naik. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan masyarakat selain belanja otomotif atau properti,” ujar Josua, akhir pekan lalu. 

Belanja masyarakat tertahan seiring dengan melemahnya pendapatan kelas menengah. Jika tetap membeli kendaraan, sebagian konsumen memilih mobil bekas. 

Baca Juga: Cak Imin: Jumlah Kelas Menengah Turun Karena Tekanan Biaya Hidup

Josua menilai, fenomena tersebut mencerminkan adanya kecenderungan downgrading pola konsumsi kelas menengah. “Pendapatan kelas menengah tidak naik sebanding dengan harga mobil. Akhirnya kelas konsumsi menurun. Yang sebelumnya membeli mobil baru kini beralih ke mobil bekas,” paparnya. 

Kenaikan pendapatan kelas menengah relatif terbatas, rata-rata sekitar 3,5% per tahun. Sementara itu, harga mobil justru meningkat lebih tinggi, antara 5% hingga 7%.

Kondisi ini menyebabkan konsumen semakin berhati-hati mengambil keputusan pembelian. Saat datang ke showroom, calon pembeli tidak hanya mempertimbangkan kualitas kendaraan, juga menghitung kemampuan membayar cicilan agar tetap sesuai kondisi keuangan keluarga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×