kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.908   38,00   0,21%
  • IDX 5.654   -166,79   -2,87%
  • KOMPAS100 730   -22,37   -2,97%
  • LQ45 557   -15,86   -2,77%
  • ISSI 196   -5,18   -2,57%
  • IDX30 317   -8,39   -2,58%
  • IDXHIDIV20 391   -10,17   -2,54%
  • IDX80 83   -2,44   -2,85%
  • IDXV30 106   -2,15   -1,98%
  • IDXQ30 102   -2,79   -2,66%

3 negara produsen karet bertemu bahas harga karet


Kamis, 20 November 2014 / 10:35 WIB
ILUSTRASI. Promo The Body Shop 6.6 Midyear Sale Diskon s/d 40% Periode 5-7 Juni 2023.


Reporter: Handoyo | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel ingin mendongkrak harga karet alam yang hingga saat ini terus terpuruk. Untuk itu, pada hari ini Kamis (20/11), Mendag Rachmat bertemu produsen terbesar karet alam dunia, Malaysia dan Thailand dalam forum International Tripartite Rubber Council  (ITRC) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Tiga negara produsen karet alam terbesar dunia, yang menguasai 79% pangsa ekspor karet alam dunia, yakni Thailand, Indonesia, dan Malaysia membahas dan melakukan upaya agar negara-negara produsen karet alam dapat mendisiplinkan diri untuk tidak membanjiri pasar. Sebab, dalam tiga tahun terakhir, harga karet mencapai titik terendah.

“Penurunan harga karet alam saat ini harus dapat kita perbaiki dengan cara pengelolaan suplai. Indonesia sebagai negara produsen kedua terbesar dengan sekitar 2,4 juta petani karet yang terlibat langsung, sangat berkepentingan dan harus mendapatkan harga yang layak,” kata Rachmat, dalam siaran persnya.

Pertemuan tingkat Menteri ITRC ini dihadiri oleh Menteri Pertanian dan Koperasi Thailand, Menteri Perdagangan RI, dan Menteri Perladangan Komoditi Malaysia. Selain itu, juga diundang Menteri Perdagangan dari Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam (CLMV) yang menguasai sekitar 10% produksi dunia.

Keadaan perkaretan dunia saat ini mengalami tekanan yang cukup berat, karena besarnya stok karet di tangan industri yang mencapai lebih dari 2,4 juta sehingga harga karet menjadi tertekan mencapai sekitar USD 1,6/kg. Keadaan ini terus berlanjut di bulan November menjadi sekitar US$ 1,54 cent/kg. Harga tersebut sudah jauh di bawah biaya produksi yang mengakibatkan harga beli kepada petani karet juga mengalami tekanan.

Mendag mengatakan bahwa semua negara produsen bersama dengan pelaku usaha harus bersatu melakukan sesuatu untuk mendongkrak harga karet pada tingkat yang menguntungkan baik untuk produsen maupoun konsumen, paling tidak kembali pada tingkat harga pada tahun 2011.

Sementara itu, ekspor karet alam Indonesia pada tahun 2010 mencapai US$ 7,3 miliar dan tahun 2011 melompat menjadi US$ 11,7 miliar. Namun, pada tahun 2013 turun menjadi US$ 6,9 miliar. Turunnya ekspor Indonesia tersebut karena sangat dipengaruhi harga. Tingginya nilai ekspor tahun 2011 karena harga karet alam yang cukup tinggi melebihi US$ 4/kg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×