kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.340
  • LQ451.101,79   1,60   0.15%
  • SUN105,56 -0,84%
  • EMAS588.852 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Pajak akui sulit pajaki bisnis digital asing

Jumat, 16 Juni 2017 / 14:20 WIB

Pajak akui sulit pajaki bisnis digital asing
Berita Terkait

JAKARTA. Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan akan lebih gencar menyisir potensi pajak yang selama ini belum optimal. Salah satu sektor yang memiliki potensi besar adalah ekonomi digital.

Namun demikian, memungut pajak perusahaan berbasis layanan digital atau over the top (OTT) asing yang mendapatkan keuantungan dari produk yang dijual di Indonesia, diakui masih sulit.

Kepala Subdit Manajemen Transformasi DJP Kemenkeu Heru Marhanto Utomo mengatakan, para perusahaan OTT asing itu biasanya menghindari pajak dengan menggunakan OTT domestik yang berperan hanya sebagai pihak pemasaran, sehingga mereka bisa menghindar dari pembayaran pajak. Kasus ini persis seperti yang dilakukan oleh Google.

Nah, apabila Ditjen Pajak kemudian mengejar OTT yang ada di Indonesia tersebut, perusahaan itu tidak bisa dikenakan pajak karena hanya mendapat keuntungan dari OTT luar negeri sehingga ketika dikenakan pajak di Indonesia.

"Jadi untuk mengejar Wajib Pajak OTT luar negeri, kami perlu upaya yang tidak mudah. Tapi bukan berarti bersifat tidak adil karena hanya mencari WP yang di dalam saja," katanya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (15/6).

Hingga kini, ia mengakui Indonesia belum memiliki instrumen khusus untuk memajaki bisnis digital tersebut, “Peraturan tidak secepat dari perubahan teknologi yang cepat sekali. Peraturan penyusunannya banyak perlu diskusi dengan stakeholder. Dari Ditjen Pajak, kami selalu ikut perkembangan,” ujarnya.

Pengamat pajak Danny Darussalam Tax Center (DDTC) Darussalam mengatakan, saat ini hampir seluruh negara di dunia mengalami kesulitan dalam upaya memajaki perusahaan multinasional yang berbasis ekonomi digital seperti Google, Twitter, Facebook karena model bisnis digital yang tidak berbentuk fisik.

“Sistem pajak internasional saat ini juga belum memiliki solusi yg disepakati (konsensus) sedara global. Apakah semua negara memiliki harapan yang tinggi dalam memperoleh pajak dari model bisnis tersebut? Jawabannya, ya,” katanya.


Reporter Ghina Ghaliya Quddus
Editor : Sanny Cicilia
Berita terbaru Nasional

TERBARU
MARKET
IHSG
9,63
6.500,53
0.15%
 
US/IDR
13.334
0,02
 
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Slipi - Jakarta
26 February 2018 - 27 February 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy