Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rencana belanja negara pada kuartal I-2026 yang diperkirakan menembus Rp 809 triliun, naik sekitar 23% dibandingkan periode sebelumnya, dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memperkirakan dengan kucuran belanja tersebut, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 bisa berada pada kisaran 5,5% hingga 6%.
Namun, sejumlah ekonom memberikan pandangan berbeda terkait proyeksi tersebut. Teuku Riefky, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, menilai lonjakan pertumbuhan hingga 6% sulit tercapai hanya dengan mengandalkan belanja atau insentif fiskal semata.
"Saya rasa tidak bisa. Saat ini kondisi produktivitas kita sedang lemah. Kucuran insentif tentu akan berdampak positif, tapi tidak akan meloncatkan pertumbuhan kita dari 5,39% ke tiba-tiba 6%," ujar Riefky kepada Kontan.co.id, Jumat (13/2/2026).
Baca Juga: Purbaya Gelontorkan Rp 55 Triliun untuk THR ASN, TNI, dan Polri
Menurut Riefky, untuk mencapai lonjakan pertumbuhan setinggi itu diperlukan reformasi struktural yang lebih mendasar, bukan sekadar dorongan belanja jangka pendek.
"Untuk loncatan setinggi ini perlu muncul dari reformasi struktural, bukan dari insentif semata," katanya.
Pandangan berbeda disampaikan Faisal Rachman, Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank. Faisal melihat peluang pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 cukup tinggi, terutama karena faktor musiman dan efek low base dari tahun sebelumnya.
"Sebenarnya ada peluang yang cukup tinggi untuk ekonomi Indonesia tumbuh tinggi di kuartal I-2026. Selain karena ada tambahan dari menguatnya demand secara musiman pada masa Ramadan dan libur Lebaran, terdapat peluang dari low base effect tahun lalu pada kuartal I-2025 yang mana ekonomi tumbuh di bawah 5%," jelasnya.
Faisal menekankan, stimulus pemerintah perlu difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi agar permintaan domestik meningkat.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimistis Ekonomi Indonesia Mengalami Fase Ekspansi Hingga 2033
"Jadi fokusnya adalah kebijakan yang memperkuat sisi permintaan," imbuh Faisal.
Menurutnya, jika sisi permintaan menguat, maka dampaknya akan menjalar ke sisi produksi. Produsen akan terdorong meningkatkan output seiring naiknya permintaan, sehingga efek penggandanya (multiplier effect) menjadi lebih besar.
Namun demikian, Faisal mengingatkan bahwa perbaikan iklim usaha dan investasi juga tetap penting agar kepercayaan konsumen dan pelaku bisnis sama-sama meningkat.
"Tentunya memang kondisi usaha dan investasi juga perlu untuk selalu diimprove agar confidence konsumen dan bisnis sama-sama menguat,” tutur Faisal.
Selanjutnya: Resep Bisnis Cookies Tetap Cuan Menjelang Hari Raya
Menarik Dibaca: Bisa Jadi Playlist Kencan, 7 Lagu Romantis Ini Bikin Makin Mesra
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
- Purbaya Yudhi Sadewa
- pertumbuhan ekonomi
- daya beli masyarakat
- Stimulus Fiskal
- Belanja Negara
- Inflasi Indonesia
- Faisal Rachman
- Teuku Riefky
- Proyeksi Ekonomi Indonesia
- Belanja Negara 2026
- kebijakan ekonomi Indonesia
- Ekonomi Q1 2026
- Reformasi Struktural Ekonomi
- Prediksi Ekonom













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)