kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45823,04   -9,71   -1.17%
  • EMAS953.000 0,85%
  • RD.SAHAM -0.61%
  • RD.CAMPURAN -0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Yuk hitung-hitung, segini potensi kerugian ekonomi dengan atau tanpa lockdown


Kamis, 24 Juni 2021 / 21:39 WIB
Yuk hitung-hitung, segini potensi kerugian ekonomi dengan atau tanpa lockdown
ILUSTRASI. Warga berada di kawasan karantina wilayah terbatas atau lockdown skala mikro di Jalan Intan Berduri, Kawasan Sumur Batu, Jakarta Pusat, Rabu (9/6/2021). Yuk hitung-hitung, segini potensi kerugian ekonomi dengan atau tanpa lockdown.

Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, penanganan pandemi dengan kuncitara (lockdown) akan lebih efektif. 

Apalagi, bila menilik ke belakang, pemerintah sudah mencoba berbagai cara seperti PSBB maupun PPKM, tetapi angka positif masih tinggi. “Sehingga, sebaiknya lockdown menjadi senjata pamungkas yang harus dilakukan,” ujar Bhima kepada Kontan.co.id, Kamis (24/6). 

Bhima menambahkan, dengan lockdown atau tanpa lockdown, memang bakal ada kerugian produk domestik bruto (PDB), tetapi kerugian PDB dengan lockdown akan jauh lebih kecil dari kerugian tanpa lockdown.

Menurut hitungannya, dengan skenario lockdown 2 minggu pada Juni 2021 hingga Juli 2021, pertumbuhan ekonomi di keseluruhan tahun 2021 diperkirakan di kisaran 3% hingga 4,5%. 

Baca Juga: Ekonom CELIOS nilai penanganan pandemi dengan lockdown akan lebih efektif

Dengan asumsi target pertumbuhan 2021 sesuai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5% atau PDB menjadi Rp 16.205 triliun, risiko kehilangan PDB menjadi di kisaran Rp 77 triliun hingga Rp 308 triliun. 

Sementara, skenario tanpa lockdown, pertumbuhan ekonomi 2021 diperkirakan akan berada di kisaran minus 0,5% hingga 2%. Dengan asumsi yang sama, risiko kehilangan PDB diperkirakan akan berada di kisaran Rp 463 triliun hingga Rp 848 triliun. “BIayania lebih murah dibandingkan kerugian ekonomi daripada tidak lakukan lockdown. Jadi, kenapa tidak lockdown saja?” tantang Bhima. 

Kemudian, ia menyoroti terkait keraguan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan selama lockdown akibat minim anggaran. 

Dengan asumsi lockdown di Jakarta per hari membutuhkan dana sekitar Rp 550 miliar sehari, maka kebutuhan lockdown selama 2 minggu berarti sekitar Rp 7,7 triliun. 

Dengan asumsi 70% perputaran uang nasional ada di Jakarta dan sisanya di daerah lain, maka total kebutuhan dana untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat secara nasional selama dua minggu sekitar Rp 11 triliun hingga Rp 25 triliun. 

Baca Juga: Pemerintah kembali tetapkan PPKM Mikro, ini rekomendasi analis untuk sektor ritel

Biaya lockdown tersebut hanya butuh 6% dari alokasi anggaran infrastruktur 2021 yang sebesar Rp 413 triliun. 

“Setelah lockdown berhasil, maka ekonomi bisa tumbuh lebih solid. Jangan kondisi darurat kebijakannya nanggung,” tandasnya. 

Selanjutnya: Skenario terburuk yang disiapkan pemerintah untuk fasilitas kesehatan

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
MiniMBA on Problem Solving using world class consultants approach Sukses Memimpin: Kunci Kepemimpinan Asertif Batch 2

[X]
×