Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia per Maret 2026 diyakini masih relatif aman, namun ruang kewaspadaan meningkat seiring kombinasi tekanan eksternal yang datang bersamaan dan tidak menguntungkan.
“Posisi ULN Indonesia per Maret 2026 masih relatif aman, tetapi ruang kewaspadaannya meningkat karena terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak, dan suku bunga global yang masih tinggi,” kata Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia, posisi ULN Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar US$ 433,0 miliar, turun tipis dari 433,4 miliar dolar AS pada kuartal IV 2025. Pertumbuhan ULN juga melambat menjadi 0,8% secara tahunan (yoy) dari 1,9% pada periode sebelumnya, terutama dipengaruhi penurunan ULN sektor publik dan swasta.
Baca Juga: DPR Dorong Kopdes dan MBG Jadi Mesin Ekonomi Desa, Ini Tantangannya
Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga turun menjadi 29,5% dari 30,0%, sementara 85,4% ULN masih berjangka panjang, yang menunjukkan struktur utang luar negeri Indonesia masih relatif sehat dan tidak didominasi kewajiban jangka pendek.
Meski demikian, Josua menegaskan kondisi tersebut tidak bisa dibaca sebagai situasi tanpa risiko. Pelemahan rupiah tetap menjadi faktor penting yang meningkatkan beban ULN dalam rupiah, terutama bagi pemerintah, BUMN, perbankan, dan korporasi yang memiliki kewajiban dalam dolar AS.
“Risiko paling besar bukan hanya pada besaran ULN, melainkan pada kemampuan membayar kembali ketika dolar menguat, biaya pembiayaan naik, dan pendapatan ekspor tidak cukup kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan tekanan eksternal masih kuat karena dolar AS ditopang imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang tinggi serta harga minyak yang bertahan tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Dari sisi pemerintah, risiko ULN relatif lebih terkendali. ULN pemerintah pada kuartal I 2026 tercatat sebesar US$ 214,7 miliar dengan dominasi jangka panjang mencapai 99,99%. Namun, Josua mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tetap menambah beban fiskal dalam APBN.
“Pelemahan rupiah tetap menambah beban pembayaran bunga dan pokok utang luar negeri dalam APBN ketika dikonversi ke rupiah,” katanya.
Ia juga menilai tekanan eksternal dapat berdampak tidak langsung pada biaya pembiayaan negara. Tekanan eksternal yang membuat rupiah melemah juga dapat menaikkan imbal hasil SBN dan memperbesar biaya pembiayaan pemerintah.
Baca Juga: Dicecar DPR, Gubernur BI Jelaskan Rupiah Undervalued Diukur dari Stabilitas
Dari sisi swasta, ULN tercatat turun menjadi 192,6 miliar dolar AS dari 194,1 miliar dolar AS pada triwulan IV 2025, dan terkontraksi 1,8% secara tahunan. Sebanyak 76,6% ULN swasta masih berjangka panjang.
Namun, Josua menyoroti sejumlah sektor yang perlu dicermati, yakni industri pengolahan, listrik dan gas, jasa keuangan dan asuransi, serta pertambangan yang menyumbang sekitar 80,4% ULN swasta.
“Empat sektor ini sangat terkait dengan impor bahan baku, energi, pembiayaan proyek, dan ekspor komoditas,” ujarnya.
Josua juga mengingatkan empat risiko utama dalam jangka pendek, yaitu risiko refinancing, risiko ketidaksesuaian mata uang, risiko likuiditas valas, dan risiko sentimen pasar. Menurutnya risiko refinancing muncul ketika jatuh tempo bersamaan dengan dolar kuat dan bunga global tinggi.
"Risiko lain adalah mismatch mata uang ketika korporasi berutang dalam dolar tetapi pendapatannya dalam rupiah," ujarnya
Cadangan devisa Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar US$ 146,2 miliar, setara 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Namun angka itu turun dari US$ 148,2 miliar pada Maret 2026. Menurut Josua meski cadangan devisa masih memadai, tetapi juga mengalami penurunan akibat pembayaran ULN pemerintah dan kebutuhan stabilisasi rupiah.
Baca Juga: Ekonom: BI Harus Hawkish dan Naikkan Suku Bunga Acuan Demi Jaga Rupiah
Ia menegaskan ULN Indonesia masih terkendali secara struktur, namun semakin sensitif terhadap tekanan nilai tukar.
“Penurunan ULN adalah sinyal positif karena tidak ada lonjakan utang, tetapi pelemahan rupiah membuat risikonya lebih sensitif terhadap kondisi global,” ujarnya.
Josua kembali menekankan pentingnya kehati-hatian pengelolaan risiko utang luar negeri di tengah tren pelemahan rupiah dan gejolak global.
“Selama cadangan devisa memadai, struktur ULN jangka panjang dominan, dan korporasi disiplin mengelola risiko kurs, posisi ULN masih terkendali. Tetapi jika rupiah terus melemah tajam dan dolar tetap mahal, tekanan terhadap APBN, korporasi, dan stabilitas pasar keuangan akan meningkat," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












