Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi
Dari sisi pasar modal, Ketua Badan Otonom Hipmi Jaya Capital Market & IPO, Karaeng Adjie menjelaskan tekanan yang terjadi saat ini merupakan tekanan double whammy jangka pendek yang memperbesar volatilitas, tetapi tidak mengubah tesis jangka menengah dan panjang pasar modal Indonesia.
"Isu MSCI memicu aliran keluar berbasis indeks, sementara koreksi logam global dipicu oleh perubahan sentimen kebijakan The Fed. Namun keduanya tidak diikuti revisi signifikan terhadap fundamental emiten maupun prospek ekonomi Indonesia," terang Karaeng.
Ia menambahkan secara struktural, tekanan fiskal Amerika Serikat tetap membatasi ruang kebijakan moneter yang terlalu ketat dalam jangka panjang.
Dengan total utang pemerintah AS yang telah melampaui US$ 39 triliun dan beban bunga tahunan mendekati US$ 1 triliun, pasar pada akhirnya akan kembali menilai ulang ekspektasi suku bunga riil tinggi yang berkelanjutan yang memiliki efek domino terhadap sentimen apresiasi harga komoditas dan energi.
Hipmi Jaya menegaskan volatilitas yang terjadi saat ini lebih tepat dibaca sebagai fase penyesuaian pasar terhadap dinamika global, bukan sebagai sinyal pelemahan struktural ekonomi Indonesia.
Dengan sektor riil yang tetap bergerak, fundamental emiten yang relatif terjaga, serta kebijakan pemerintah yang bersifat suportif terhadap stabilitas pasar, Hipmi Jaya memandang Indonesia tetap memiliki daya tarik jangka menengah.
Selanjutnya: Harga Bitcoin Anjlok 28% dalam Sebulan: Waspada Jebol Level Support Krusial!
Menarik Dibaca: Sambut Imlek, Genki Sushi Hadirkan 3 Menu dengan Harga Spesial
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













