kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.890.000   -66.000   -2,23%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Outlook Kredit Negatif oleh Moody's Rating Berpotensi Dongkrak Biaya Utang RI


Jumat, 06 Februari 2026 / 20:44 WIB
Outlook Kredit Negatif oleh Moody's Rating Berpotensi Dongkrak Biaya Utang RI
ILUSTRASI. Moodys Investors Service ( REUTERS/Mike Segar)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menilai perubahan outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan mendorong kenaikan biaya utang pemerintah. 

“Perubahan outlook Indonesia menjadi negatif umumnya dibaca pasar sebagai meningkatnya volatilitas akibat risiko domestik yang naik, sehingga investor cenderung meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi,” ujar Banjaran kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Moody’s sebelumnya mengubah outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari stabil pada 5 Februari 2026, meskipun tetap mempertahankan peringkat kredit di level Baa2 (investment grade).

Baca Juga: Tanggapi Moody's Rating untuk Indonesia, Bos Danantara Angkat Bicara

Lembaga pemeringkat tersebut menilai kebijakan pemerintah semakin sulit diprediksi, yang berpotensi menekan efektivitas kebijakan serta kredibilitas di mata investor. 

Moody’s juga menyoroti peningkatan belanja pemerintah, terutama program sosial, serta ketidakpastian terkait pembentukan Danantara.

Menurut Banjaran, outlook negatif berpotensi meningkatkan biaya utang pemerintah melalui kenaikan premi risiko, khususnya saat penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) baru maupun proses refinancing utang jatuh tempo.

Meski demikian, reaksi pasar diperkirakan tidak akan ekstrem selama status investment grade masih dipertahankan.

“Respons pasar lebih mungkin berupa repricing bertahap dibanding lonjakan yang tajam, sepanjang fondasi kebijakan tetap terjaga dan komunikasi pemerintah konsisten,” katanya.

Baca Juga: Moody's Turunkan Outlook, Menkeu Purbaya Minta Investor Tak Khawatir Kondisi Fiskal

Dari sisi indikator pasar, outlook negatif dapat mendorong pelebaran credit default swap (CDS) serta kenaikan yield SBN seiring meningkatnya persepsi risiko investor, terutama jika tekanan domestik berlanjut.

Sentimen risiko yang memburuk juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memicu capital outflow.

Banjaran memperkirakan biaya utang pemerintah tahun ini cenderung lebih mahal dibanding baseline sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut masih dapat terkendali apabila kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter tetap terjaga.

Ia menambahkan, inflow ke pasar SBN yang masih positif secara tahunan hingga akhir Januari 2025 menjadi salah satu penopang stabilitas yield saat ini. 

Baca Juga: Outlook Moody’s Negatif, Purbaya Tegaskan Indonesia Tak Pernah Mangkir Bayar Utang

Ke depan, pergerakan yield akan sangat dipengaruhi oleh kredibilitas bauran fiskal–moneter, kepastian regulasi, kualitas strategi pembiayaan, serta faktor eksternal seperti pergerakan yield US Treasury dan risk appetite global.

“Penahan utama tetap datang dari status investment grade dan komitmen menjaga defisit di bawah 3% PDB, yang membantu membatasi kenaikan biaya utang agar tidak berlebihan,” pungkasnya.

Selanjutnya: Bareskrim Polri Tetapkan Dirut dan 2 Orang Lainnya sebagai Tersangka Kasus DSI

Menarik Dibaca: Sambut Imlek, Genki Sushi Hadirkan 3 Menu dengan Harga Spesial

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×