Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Cadangan devisa diperkirakan berpotensi menurun dari posisi Februari 2025 sebesar US$ 151 miliar, seiring meningkatnya kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia (BI) melalui intervensi di pasar valas.
Sebagai informasi, posisi cadangan devisa mencapai US$ 151,9 miliar pada Februari 2026, atau menurun dibandingkan posisi pada akhir Januari 2026 sebesar US$ 154,6 miliar.
Penurunan cadangan devisa tersebut dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
Baca Juga: Tak Terbukti Hasut Demo, Delpedro Marhaen Cs Divonis Bebas
Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menilai, tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi perhatian akibat sejumlah faktor seperti pelebaran defisit fiskal, penyesuaian outlook sovereign credit oleh beberapa lembaga pemeringkat global, serta kinerja ekspor yang berpotensi tertekan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar dan kebutuhan intervensi yang lebih intensif untuk menjaga stabilitas rupiah,” tutur Banjaran kepada Kontan, Jumat (6/3/2026).
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp 16.670 hingga Rp16.770 per dollar AS pada akhir tahun 2026. Hal ini sejalan dengan perkiraan bahwa ketegangan geopolitik global akan mereda bertahap pada pertengahan tahun 2026.
“Oleh karena itu, penggunaan cadangan devisa untuk meredam tekanan nilai tukar berpotensi menyebabkan penurunan level cadangan devisa dalam jangka pendek,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













