Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
Pandangan senada disampaikan Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Muhammad Rizal Taufikurahman.
Ia menilai pelemahan rupiah justru berisiko memperlebar defisit jika asumsi makro APBN tidak disesuaikan.
Secara teknis, setiap depresiasi Rp 100 per dolar AS memang dapat meningkatkan penerimaan negara sekitar Rp 5 triliun hingga Rp 6 triliun, terutama dari sektor berbasis dolar seperti migas.
Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Rp 17.300 per Dolar AS, Terhimpit Harga Minyak dan Risiko APBN
Namun, kenaikan belanja dinilai jauh lebih besar, yakni sekitar Rp 7 triliun hingga Rp 8 triliun, akibat lonjakan subsidi energi, pembayaran bunga utang valas, dan kebutuhan impor pemerintah.
Ia memperkirakan, jika rupiah melemah ke kisaran Rp 17.500 per dolar AS, tambahan defisit bisa mencapai Rp 8 triliun hingga Rp 10 triliun.
Dalam kondisi defisit awal yang sudah di atas Rp 240 triliun atau sekitar 0,9% PDB, tekanan tersebut dinilai signifikan dan semakin mempersempit ruang fiskal.
Rizal mengingatkan, jika tidak direspons dengan langkah kebijakan seperti realokasi belanja, pengendalian subsidi energi, dan optimalisasi penerimaan, maka fungsi APBN sebagai peredam gejolak (shock absorber) akan melemah.
Baca Juga: Outlook Negatif Fitch dan Arab Keluar dari OPEC Tekan Rupiah ke Rekor Terlemah
"Risiko terbesarnya bukan hanya pada angka defisit, tetapi pada kredibilitas fiskal, terutama jika pelemahan rupiah berlangsung persisten di tengah ketidakpastian global yang semakin tidak pasti," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












