Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah untuk mengerek kadar campuran biodiesel menjadi 50% atau B50 menyimpan sejumlah tantangan teknis dan struktural bagi para pelaku industri. PT Pertamina Patra Niaga kini tengah melakukan pemetaan guna memitigasi dampak implementasi kebijakan tersebut.
Vice President Business Development & Subsidiary PT Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan mengungkapkan, tantangan pertama yang dihadapi adalah kesiapan sarana dan prasarana (sarpras) di lapangan. Menurutnya, Pertamina sedang melakukan mapping di seluruh terminal BBM atau depot untuk memastikan kesiapan penerimaan stok B50.
"Kami coba mapping sekarang, mengakses semua sarpras yang kami miliki untuk bisa menyiapkan menerima implementasi B50 ini. Karena ada beberapa lokasi yang memang perlu kita siapkan secara tanky storage," ujarnya dalam acara Implementasi Program B50 di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga: Kemenkop: Industri Halal Tumbuh 6,22% pada Tahun 2025
Sigit menjelaskan, kendala utama muncul pada depot-depot yang memiliki keterbatasan lahan, contohnya terminal BBM Plumpang di Jakarta dan Bau-Bau di Sulawesi. Menurutnya, penambahan kapasitas tangki untuk menampung komponen fatty acid methyl ester (FAME) yang lebih besar terbentur oleh pemukiman padat penduduk.
"Di Plumpang itu ternyata secara kapasitas sangat terbatas, sementara di sampingnya itu banyak pemukiman penduduk yang tidak bisa kita gusur, yang tidak bisa kita beli, itu yang menjadi challenge. Karena kami harus menyiapkan tangki yang lebih besar untuk menghandle fame," jelasnya.
Dari sisi teknis, Sigit mengatakan, saat ini pengujian terhadap berbagai jenis kendaraan dan mesin sedang berjalan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM dan Lemigas.
Sigit berharap hasil uji teknis untuk kendaraan ringan, alat berat, hingga kereta api dan mesin perkapalan bisa terlihat progresnya pada Juni hingga akhir tahun ini.
Meski hasil pengujian sejauh ini menunjukkan tren positif, Sigit mencatat, berdasarkan pengalaman implementasi B20 hingga B40, hasil pengujian laboratorium seringkali berbeda dengan realitas di lapangan yang dirasakan konsumen industri.
Baca Juga: Perkuat Industri Halal, LPPOM Dorong Sertifikasi Ditingkat Toko Bahan Baku
"Selama pengujian pada saat naik stage ke B yang lebih tinggi selalu menunjukkan hasil yang baik. Tetapi ketika real implementasi, baru kami mendapatkan keluhan dari konsumen industri. Ini yang diingatkan untuk bisa dicermati dengan sungguh-sungguh hasil pengujian ini agar benar-benar representatif," tegasnya.
Tantangan berikutnya, Sigit menilai, peningkatan volume FAME untuk B50 memerlukan penyesuaian teknologi mesin dan aspek keamanan di sisi produsen agar pasokan tetap terjaga tanpa mengabaikan faktor keselamatan.
Namun, Pertamina juga menyoroti potensi terjadinya ekses atau kelebihan pasokan solar (B0) di dalam negeri. Dengan meningkatnya campuran FAME menjadi 50%, pemanfaatan porsi solar murni secara otomatis akan terus menurun.
"Kapasitas kilang kita itu sudah didesain dengan kapasitas sekian. Jika output produk solar diturunkan, maka produk lain seperti gasoline (bensin), LPG, dan avtur juga akan terdampak. Padahal saat ini posisi solar kita sudah balance, namun kita masih impor bensin sekitar 50%," terangnya.
Baca Juga: Jelang May Day, Kemnaker Luncurkan Program Perlindungan Buruh
Dia bilang, jika produksi kilang diturunkan untuk menghindari ekses solar, maka produksi bensin juga akan turun, yang berakibat pada pembengkakan porsi impor bensin. Sebaliknya, jika tetap diproduksi, Pertamina harus mengalihkan kelebihan solar tersebut ke pasar ekspor.
Sigit menuturkan, produk solar Indonesia saat ini masih berkategori high sulfur, sementara pasar global sudah sangat sedikit yang menyerap produk jenis tersebut. Selain itu, ekspor akan memicu tambahan biaya angkut (premium freight) yang cukup besar.
Lebih lanjut, Sigit memproyeksikan, dengan adanya proyek Kilang Tuban (GRR Tuban), potensi ekses solar nasional bisa mencapai 8,3 juta KL per tahun.
"Besar volume inilah yang harus kita pikirkan bersama, ke mana serapannya akan dialokasikan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













