Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Indonesia dinilai masih menjadi negara yang menarik bagi investor asing. Namun, keunggulan Indonesia dalam menarik investasi berbeda dengan Vietnam, terutama dalam sektor manufaktur berorientasi ekspor.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi ukuran pasar domestik, sumber daya alam, khususnya nikel, serta pengembangan hilirisasi.
Sementara itu, Vietnam dinilai lebih kompetitif sebagai basis manufaktur yang terhubung dengan rantai pasok global.
"Indonesia sebenarnya masih menarik, tetapi keunggulannya berbeda dengan Vietnam. Kita tetap kuat dari sisi ukuran pasar, sumber daya alam, terutama nikel dan hilirisasi, sementara Vietnam saat ini lebih kompetitif sebagai basis manufaktur yang berorientasi ekspor," ujar Yusuf kepada Kontan.co.id, Senin (21/9/2026).
Baca Juga: Ekonomi RI Kalah Kencang dari Vietnam & Singapura, Pemerintah Benahi Iklim Investasi
Menurutnya, arus investasi asing ke Indonesia juga masih menunjukkan pertumbuhan. Pada semester I-2026, realisasi penanaman modal asing (PMA) mencapai sekitar Rp 507,6 triliun.
Sementara total investasi, termasuk penanaman modal dalam negeri (PMDN), telah menembus sekitar Rp 1.010 triliun.
Dengan demikian, persoalan utama Indonesia bukan terletak pada masih atau tidaknya investor asing masuk ke dalam negeri.
Tantangannya adalah memastikan investasi tersebut masuk ke sektor yang mampu memperkuat kapasitas produksi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja.
"Jadi persoalannya bukan apakah investor asing masih masuk, tetapi ke mana modal tersebut diarahkan dan seberapa besar dampaknya terhadap kapasitas produksi serta ekspor," katanya.
Yusuf menjelaskan, Vietnam memiliki keunggulan karena investasi asing di negara tersebut banyak masuk ke sektor manufaktur dan pengolahan yang terhubung langsung dengan rantai pasok global.
Kondisi ini membuat perusahaan asing memiliki peran besar terhadap ekspor Vietnam.
Baca Juga: Ekonomi RI Kalah Kencang dari Vietnam hingga Singapura, Apa Penyebabnya?
Sebaliknya, investasi asing di Indonesia masih relatif banyak mengarah ke sektor logam dasar, pertambangan, dan hilirisasi.
Meskipun nilai investasinya besar, dampaknya terhadap pembentukan basis manufaktur yang berorientasi ekspor dinilai belum sebesar Vietnam.
"Untuk pabrik yang membutuhkan kepastian proses, integrasi dengan rantai pasok global, dan orientasi ekspor, Vietnam saat ini menawarkan kondisi yang lebih kompetitif," katanya.
Di sisi lain, Indonesia tetap memiliki keunggulan yang sulit digantikan, terutama bagi investasi yang membutuhkan akses terhadap pasar domestik yang besar maupun bahan baku mineral.
Yusuf menilai investor pada dasarnya tidak meninggalkan Indonesia secara keseluruhan. Investor lebih menentukan lokasi berdasarkan karakteristik proyek yang akan dibangun.
"Untuk investasi yang membutuhkan pasar domestik besar atau akses terhadap bahan baku mineral, Indonesia tetap memiliki keunggulan yang sulit digantikan," imbuh Yusuf.
Baca Juga: Said Iqbal: Relokasi PT J dan PT S ke Vietnam Berisiko PHK hingga 7.000 Karyawan
Menurutnya, persoalan utama Indonesia saat ini adalah biaya dan kepastian dalam menjalankan investasi. Faktor seperti perizinan, logistik, energi, kepastian regulasi, serta konsistensi pelaksanaan kebijakan di tingkat daerah menjadi pertimbangan penting bagi investor.
Bagi perusahaan manufaktur yang berorientasi ekspor, perbedaan biaya produksi dan kepastian waktu produksi dapat langsung memengaruhi daya saing produk di pasar global.
Oleh karena itu, Yusuf menilai pemerintah tidak cukup hanya mengejar peningkatan angka PMA.
Pemerintah juga perlu meningkatkan kualitas investasi agar modal asing yang masuk dapat menghasilkan produk bernilai tambah, memperbesar ekspor, dan menciptakan lebih banyak pekerjaan formal.
"Ukuran pasar dan hilirisasi tetap menjadi modal penting, tetapi tanpa perbaikan pada biaya produksi, logistik, perizinan, dan kepastian hukum, sebagian proyek manufaktur akan lebih memilih lokasi yang menawarkan proses produksi yang lebih efisien dan lebih mudah diprediksi," katanya.
Senada, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman mengatakan belum tepat jika Indonesia disebut sudah tidak menarik bagi investor asing. Pasalnya, arus PMA ke Indonesia masih relatif kuat.
Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Harga BBM di Negara Tetangga Malaysia & Vietnam Lebih Murah
Namun, menurutnya, daya tarik Indonesia belum optimal jika dibandingkan dengan besarnya ukuran pasar dan potensi ekonomi nasional.
"Belum tepat mengatakan Indonesia tidak lagi menarik bagi investor asing karena arus PMA masih relatif kuat. Persoalannya adalah daya tarik Indonesia belum optimal dibandingkan besarnya pasar dan potensi ekonominya," kata Rizal.
Ia menilai tantangan Indonesia bukan sekadar meningkatkan jumlah modal asing yang masuk, tetapi memenangkan investasi berkualitas yang membawa teknologi, meningkatkan produktivitas, memperbesar ekspor, serta menciptakan pekerjaan bernilai tambah tinggi.
Rizal mengatakan keunggulan Vietnam tidak semata-mata tercermin dari rasio FDI terhadap PDB yang lebih tinggi. Faktor yang lebih penting adalah bagaimana investasi asing di Vietnam terintegrasi dengan sektor manufaktur dan rantai pasok global.
Sementara itu, Indonesia masih relatif terkonsentrasi pada investasi berbasis sumber daya alam dan hilirisasi komoditas.
"Pekerjaan besarnya adalah mengubah keunggulan pasar dan SDA menjadi keunggulan industri melalui kepastian regulasi, produktivitas tenaga kerja, logistik kompetitif, serta ekosistem pemasok domestik yang kuat," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














