Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang Maret mencapai US$ 3,32 miliar meningkat dibandingkan Februari sebesar US$ 1,27 miliar. Capaian ini juga memperpanjang tren surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Meski demikian, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengingatkan bahwa tren surplus ke depan berpotensi menyempit. Hal ini seiring dengan kenaikan harga barang impor, terutama komoditas energi seperti minyak dan gas (migas), yang dinilai lebih tinggi dibandingkan harga komoditas ekspor utama Indonesia.
Menurutnya, harga komoditas ekspor seperti batubara, mineral, dan minyak sawit atau crude palm oil (CPO) tidak mengalami kenaikan setinggi komoditas impor. Kondisi ini berpotensi menekan nilai surplus perdagangan.
Baca Juga: Neraca Dagang Surplus 71 Bulan Berturut, Kualitas Ekspor Dinilai Meragukan
“Surplus diperkirakan cenderung menyempit karena harga barang-barang yang kita impor seperti migas naik lebih tinggi daripada barang yang kita ekspor,” jelasnya kepada Kontan, Senin (4/5/2026).
Dengan kondisi tersebut, David menilai meskipun neraca perdagangan masih akan mencatatkan surplus, tekanan dari kenaikan harga impor perlu diwaspadai karena dapat mengurangi ketebalan surplus dalam beberapa bulan ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













