Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 dinilai menjadi sinyal positif, meskipun kualitasnya perlu dicermati lebih dalam.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan surplus Maret yang mencapai US$ 3,32 miliar meningkat signifikan dibandingkan Februari sebesar US$ 1,27 miliar, sekaligus memperpanjang tren surplus selama 71 bulan berturut-turut.
“Namun kualitas surplusnya perlu dibaca hati-hati. Ekspor Maret masih turun 3,10% secara tahunan, meskipun naik 1,65% secara bulanan,” ujar Josua kepada Kontan, Senin (4/5/2026).
Baca Juga: Produksi Beras Indonesia 2026 Hanya Tumbuh 0,26%, Ini Penyebab Utamanya
Ia menjelaskan, kenaikan ekspor secara bulanan antara lain ditopang oleh harga komoditas energi yang lebih tinggi serta permintaan eksternal yang menguat. Beberapa negara mitra dagang disebut mempercepat pembelian untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Meski demikian, secara kumulatif tren surplus justru menunjukkan penyempitan. Sepanjang Januari–Maret 2026, surplus neraca dagang tercatat sebesar US$ 5,55 miliar, turun dari US$ 10,91 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
“Artinya, meskipun surplus Maret membaik, tren secara keseluruhan masih melemah,” jelasnya.
Untuk April 2026, Josua memperkirakan surplus neraca perdagangan masih akan berlanjut, namun berpotensi menyempit. Hal ini dipengaruhi oleh kemungkinan meningkatnya impor seiring normalisasi aktivitas ekonomi pasca-Lebaran.
Impor bahan baku dan barang modal diperkirakan akan meningkat sejalan dengan kembali bergairahnya aktivitas produksi. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi mendorong nilai impor migas.
Dalam perhitungannya, kenaikan harga minyak sebesar 10% dapat menekan transaksi berjalan sekitar 0,12% terhadap produk domestik bruto (PDB), meskipun di sisi lain memberikan tambahan penerimaan negara dari sektor energi.
Baca Juga: Industri Pengolahan Nikel Hingga Semikonduktor Jadi Pendorong Ekspor Kuartal I-2026
“Surplus April kemungkinan masih positif, tetapi jika impor migas meningkat dan ekspor manufaktur masih tertekan, surplus dapat menyempit ke kisaran US$ 2 miliar hingga US$ 3 miliar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisi ini menunjukkan perekonomian Indonesia masih memiliki bantalan dari sektor eksternal, namun mulai menghadapi tekanan dari berbagai faktor global.
“Surplus dagang masih berlanjut, tetapi tidak setebal Maret karena impor berpeluang pulih dan biaya impor migas meningkat. Bantalan ekonomi masih ada, tetapi mulai diuji oleh harga energi, pelemahan rupiah, dan gangguan rantai pasok global,” ujar Josua.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













