kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.800.000   35.000   1,27%
  • USD/IDR 17.668   -8,00   -0,05%
  • IDX 6.095   -223,56   -3,54%
  • KOMPAS100 805   -27,79   -3,34%
  • LQ45 616   -14,28   -2,26%
  • ISSI 214   -11,19   -4,97%
  • IDX30 352   -8,00   -2,22%
  • IDXHIDIV20 439   -9,68   -2,16%
  • IDX80 93   -3,02   -3,15%
  • IDXV30 121   -3,14   -2,53%
  • IDXQ30 115   -2,35   -2,00%

Super El Nino Diprediksi Menguat, BMKG Ungkap Kapan Dampaknya Mulai Terasa di RI


Jumat, 22 Mei 2026 / 04:00 WIB
Super El Nino Diprediksi Menguat, BMKG Ungkap Kapan Dampaknya Mulai Terasa di RI
ILUSTRASI. BMKG waspadai El Nino 2026 yang bisa picu kekeringan ekstrem di Indonesia. (Dok/BMKG.go.id)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Fenomena El Nino terkuat dalam beberapa dekade terakhir diperkirakan berpotensi terjadi pada akhir tahun ini. Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, dampaknya bisa dirasakan di berbagai belahan dunia, mulai dari banjir, kekeringan, hingga cuaca ekstrem. Fenomena ini juga dikhawatirkan dapat mendorong suhu global pada 2027 mencapai rekor tertinggi baru.

Prakiraan terbaru dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang dirilis pada 14 Mei 2026 menunjukkan kemungkinan besar El Nino akan berkembang antara Mei-Juli tahun ini.

El Nino sendiri merupakan fenomena iklim global yang terjadi secara berkala setiap dua hingga tujuh tahun. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur, yang kemudian memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia.

Dampaknya pun berbeda-beda di setiap negara. Di sebagian wilayah, El Nino dapat memicu kekeringan panjang, sementara di wilayah lain justru menyebabkan hujan ekstrem dan banjir.

Peristiwa El Nino pada 2023–2024 misalnya, menyebabkan kekeringan dan ancaman kelaparan di sejumlah negara Afrika bagian selatan, serta banjir besar di Brasil selatan. Fenomena tersebut juga turut berkontribusi menjadikan 2024 sebagai salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah pengamatan modern.

Suhu laut terus menghangat

Saat ini, suhu permukaan laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur tercatat lebih hangat dari biasanya, dilansir dari Nature (14/5/2026).

Di wilayah lepas pantai barat Amerika Selatan, suhu laut bahkan meningkat hingga sekitar 1 derajat Celsius di atas rata-rata dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan kondisi tersebut, berbagai model komputer yang digunakan lembaga pemerintah dan pusat penelitian iklim menunjukkan El Nino mendatang berpotensi lebih kuat dibandingkan kejadian sebelumnya.

Baca Juga: Kasus Blueray Cargo Melebar, KPK Soroti Manipulasi Jalur Impor

Dalam laporannya, NOAA menyebut peluang El Nino berkembang antara Mei-Juli mencapai 82 persen. Sementara kemungkinan fenomena itu masih bertahan hingga Desember mencapai 96 persen. Namun, untuk kategori tertinggi atau “sangat kuat”, peluangnya diperkirakan sekitar 37 persen.

Kategori tersebut mengacu pada kondisi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata normal.

Sementara itu, European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) dalam laporannya pada 1 Mei memperkirakan suhu laut di kawasan tersebut berpotensi mencapai 3 derajat Celsius di atas normal pada November mendatang.

Sejumlah peneliti menggunakan istilah “Super El Nino” untuk menggambarkan kondisi ketika suhu laut naik setidaknya 2 derajat Celsius di atas rata-rata. Peristiwa terakhir yang mencapai kategori tersebut terjadi pada 2015–2016 dan saat itu memicu berbagai cuaca ekstrem di banyak negara.

BMKG pantau perkembangan El Nino

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sophaheluwakan mengatakan, perkembangan El Nino yang diperkirakan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat pada akhir tahun ini masih terus dipantau secara intensif.

Menurutnya, BMKG terus memonitor dinamika suhu muka laut dan atmosfer untuk melihat perkembangan kekuatan El Nino serta potensi dampaknya terhadap Indonesia.

“BMKG memprediksi peluang intensitas El Nino mencapai kategori lemah sebesar 100 persen, kategori moderat sebesar 86 persen, dan kategori kuat sebesar 22 persen,” ujar Ardhasena kepada Kompas.com, Kamis (21/5/2026).

Ia menjelaskan, fenomena El Nino pada masa lalu sempat menimbulkan dampak yang sangat luas karena ilmu pengetahuan dan teknologi pemantauan iklim saat itu belum berkembang seperti sekarang.

“Pada saat itu, sains mengenai El Nino belum sepenuhnya berkembang dan belum tersedia sistem monitoring laut maupun peringatan dini,” katanya.

Baca Juga: Cak Imin Optimistis Haji 2026 Lancar, Tekankan Sinergi Semua Pihak di Armuzna

Kapan Indonesia perlu mulai waspada?

Ardhasena menuturkan, periode yang paling perlu diwaspadai di Indonesia adalah antara Mei hingga Oktober karena bertepatan dengan musim kemarau di sebagian besar wilayah Tanah Air.

Menurutnya, El Nino memang dapat berlangsung hingga tahun berikutnya. Namun, dampak paling signifikan bagi Indonesia biasanya terjadi saat fenomena tersebut beririsan dengan musim kemarau.

“El Nino bisa berlanjut sampai tahun berikutnya, tetapi dampaknya di Indonesia umumnya paling terasa ketika bertepatan dengan musim kemarau di pertengahan tahun,” jelasnya.

El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang dapat memengaruhi pola cuaca global. Dampaknya berbeda-beda di setiap wilayah dunia.

Di sejumlah negara Amerika Latin seperti Peru, El Nino justru dapat meningkatkan curah hujan dan memicu banjir. Sementara itu, di Indonesia, fenomena ini umumnya menyebabkan kondisi cuaca lebih kering dan penurunan curah hujan di berbagai daerah.

Karena itu, Ardhasena mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama kebakaran hutan dan lahan.

“Yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah gambut yang sangat mudah terbakar saat musim kering berkepanjangan,” ujarnya.

Tonton: Persiapan Puncak Haji 2026 Dimulai! Gus Irfan Imbau Jamaah Indonesia Siap Hadapi Armuzna

Ancaman mengulang bencana iklim 1877

Jika Super El Nino benar-benar terjadi, sejumlah ilmuwan khawatir dampaknya dapat mendekati bencana iklim besar pada 1877 yang memicu krisis pangan global sepanjang 1876–1878.

Pada periode tersebut, El Nino berkekuatan luar biasa memicu kekeringan panjang secara bersamaan di Asia, Afrika, Amerika Selatan, hingga sebagian Australia. Karena banyak wilayah terdampak pada waktu yang hampir bersamaan, tidak ada kawasan yang mampu menjadi penyangga pangan bagi wilayah lain.

Akibatnya, dunia menghadapi gagal panen besar secara global. Kekeringan yang berlangsung antara 1876 hingga 1878 itu memicu kelaparan di berbagai negara dan diperkirakan menewaskan lebih dari 50 juta orang, atau sekitar 3 persen populasi dunia saat itu.

“Tidak ada bencana lingkungan yang lebih mematikan sejak saat itu,” kata ahli klimatologi dari Columbia University, Deepti Singh, dikutip dari American Institute of Physics.

Para ilmuwan menilai peristiwa 1877–1878 sebagai salah satu El Nino terkuat yang pernah tercatat. Rekonstruksi iklim menggunakan data terumbu karang dan cincin pohon menunjukkan intensitas fenomena tersebut setara dengan dua El Nino modern terbesar, yakni 1997–1998 dan 2015–2016.

Meski kondisi sosial, ekonomi, dan politik dunia saat ini berbeda dibanding akhir abad ke-19, Deepti Singh menilai Super El Nino tetap berpotensi mengancam ketahanan pangan, pasokan air, hingga stabilitas ekonomi global.

“Yang berbeda sekarang adalah atmosfer dan lautan kita jauh lebih hangat dibandingkan tahun 1870-an, sehingga dampak ekstrem yang muncul bisa menjadi lebih parah,” ujarnya.

Risiko ekonomi dan kemanusiaan

Dampak besar El Nino juga pernah terlihat pada peristiwa 1997–1998 yang menyebabkan kerugian ekonomi global diperkirakan mencapai 32 hingga 96 miliar dollar AS. Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp 17.600 per dollar AS, nilainya setara sekitar Rp 563,2 triliun hingga Rp 1,69 kuadriliun.

Peramal ENSO NOAA, Nathaniel Johnson, mengatakan Super El Nino berpotensi menghantam sektor pertanian dan perikanan, sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan badai di sejumlah wilayah dunia.

Sementara itu, profesor risiko dan ketahanan iklim dari University of Reading, Liz Stephens, mengingatkan bahwa dampak kemanusiaan bisa menjadi lebih besar karena semakin banyak masyarakat dunia hidup dalam kondisi rentan.

“Saat ini sudah ada lebih banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Jika hasil panen menurun akibat kekeringan atau banjir terkait El Nino, harga pangan akan semakin melonjak,” kata Stephens.

“Karena itu, kita berpotensi menghadapi dampak kemanusiaan yang sangat besar tahun ini, terutama jika krisis di Timur Tengah terus berlanjut,” tambahnya.

Tabel Dampak El Nino di Indonesia

Dampak El Nino di Indonesia Potensi Risiko
Penurunan curah hujan Kekeringan
Kemarau lebih panjang Krisis air bersih
Kondisi lahan mengering Karhutla
Gangguan pertanian Penurunan produksi pangan
Cuaca lebih panas Risiko kesehatan meningkat

Tabel Peristiwa El Nino Besar Dunia

Peristiwa El Nino Besar Dampak Utama
1877–1878 Krisis pangan global, jutaan korban jiwa
1997–1998 Kerugian ekonomi global hingga US$96 miliar
2015–2016 Cuaca ekstrem di banyak negara
2023–2024 Kekeringan Afrika dan banjir Brasil

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×