Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Ardhasena menuturkan, periode yang paling perlu diwaspadai di Indonesia adalah antara Mei hingga Oktober karena bertepatan dengan musim kemarau di sebagian besar wilayah Tanah Air.
Menurutnya, El Nino memang dapat berlangsung hingga tahun berikutnya. Namun, dampak paling signifikan bagi Indonesia biasanya terjadi saat fenomena tersebut beririsan dengan musim kemarau.
“El Nino bisa berlanjut sampai tahun berikutnya, tetapi dampaknya di Indonesia umumnya paling terasa ketika bertepatan dengan musim kemarau di pertengahan tahun,” jelasnya.
El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang dapat memengaruhi pola cuaca global. Dampaknya berbeda-beda di setiap wilayah dunia.
Di sejumlah negara Amerika Latin seperti Peru, El Nino justru dapat meningkatkan curah hujan dan memicu banjir. Sementara itu, di Indonesia, fenomena ini umumnya menyebabkan kondisi cuaca lebih kering dan penurunan curah hujan di berbagai daerah.
Karena itu, Ardhasena mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama kebakaran hutan dan lahan.
“Yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah gambut yang sangat mudah terbakar saat musim kering berkepanjangan,” ujarnya.
Tonton: Persiapan Puncak Haji 2026 Dimulai! Gus Irfan Imbau Jamaah Indonesia Siap Hadapi Armuzna
Ancaman mengulang bencana iklim 1877
Jika Super El Nino benar-benar terjadi, sejumlah ilmuwan khawatir dampaknya dapat mendekati bencana iklim besar pada 1877 yang memicu krisis pangan global sepanjang 1876–1878.
Pada periode tersebut, El Nino berkekuatan luar biasa memicu kekeringan panjang secara bersamaan di Asia, Afrika, Amerika Selatan, hingga sebagian Australia. Karena banyak wilayah terdampak pada waktu yang hampir bersamaan, tidak ada kawasan yang mampu menjadi penyangga pangan bagi wilayah lain.
Akibatnya, dunia menghadapi gagal panen besar secara global. Kekeringan yang berlangsung antara 1876 hingga 1878 itu memicu kelaparan di berbagai negara dan diperkirakan menewaskan lebih dari 50 juta orang, atau sekitar 3 persen populasi dunia saat itu.
“Tidak ada bencana lingkungan yang lebih mematikan sejak saat itu,” kata ahli klimatologi dari Columbia University, Deepti Singh, dikutip dari American Institute of Physics.
Para ilmuwan menilai peristiwa 1877–1878 sebagai salah satu El Nino terkuat yang pernah tercatat. Rekonstruksi iklim menggunakan data terumbu karang dan cincin pohon menunjukkan intensitas fenomena tersebut setara dengan dua El Nino modern terbesar, yakni 1997–1998 dan 2015–2016.
Meski kondisi sosial, ekonomi, dan politik dunia saat ini berbeda dibanding akhir abad ke-19, Deepti Singh menilai Super El Nino tetap berpotensi mengancam ketahanan pangan, pasokan air, hingga stabilitas ekonomi global.
“Yang berbeda sekarang adalah atmosfer dan lautan kita jauh lebih hangat dibandingkan tahun 1870-an, sehingga dampak ekstrem yang muncul bisa menjadi lebih parah,” ujarnya.
Risiko ekonomi dan kemanusiaan
Dampak besar El Nino juga pernah terlihat pada peristiwa 1997–1998 yang menyebabkan kerugian ekonomi global diperkirakan mencapai 32 hingga 96 miliar dollar AS. Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp 17.600 per dollar AS, nilainya setara sekitar Rp 563,2 triliun hingga Rp 1,69 kuadriliun.
Peramal ENSO NOAA, Nathaniel Johnson, mengatakan Super El Nino berpotensi menghantam sektor pertanian dan perikanan, sekaligus meningkatkan risiko kebakaran hutan dan badai di sejumlah wilayah dunia.
Sementara itu, profesor risiko dan ketahanan iklim dari University of Reading, Liz Stephens, mengingatkan bahwa dampak kemanusiaan bisa menjadi lebih besar karena semakin banyak masyarakat dunia hidup dalam kondisi rentan.
“Saat ini sudah ada lebih banyak orang yang hidup dalam kemiskinan. Jika hasil panen menurun akibat kekeringan atau banjir terkait El Nino, harga pangan akan semakin melonjak,” kata Stephens.
“Karena itu, kita berpotensi menghadapi dampak kemanusiaan yang sangat besar tahun ini, terutama jika krisis di Timur Tengah terus berlanjut,” tambahnya.
Tabel Dampak El Nino di Indonesia
| Dampak El Nino di Indonesia | Potensi Risiko |
|---|---|
| Penurunan curah hujan | Kekeringan |
| Kemarau lebih panjang | Krisis air bersih |
| Kondisi lahan mengering | Karhutla |
| Gangguan pertanian | Penurunan produksi pangan |
| Cuaca lebih panas | Risiko kesehatan meningkat |
Tabel Peristiwa El Nino Besar Dunia
| Peristiwa El Nino Besar | Dampak Utama |
|---|---|
| 1877–1878 | Krisis pangan global, jutaan korban jiwa |
| 1997–1998 | Kerugian ekonomi global hingga US$96 miliar |
| 2015–2016 | Cuaca ekstrem di banyak negara |
| 2023–2024 | Kekeringan Afrika dan banjir Brasil |
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













