kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Sudah Digenjot, Tapi Dampak Sektor Hilirisasi ke PDB Masih Terbatas


Minggu, 12 April 2026 / 17:06 WIB
Diperbarui Minggu, 12 April 2026 / 18:08 WIB
Sudah Digenjot, Tapi Dampak Sektor Hilirisasi ke PDB Masih Terbatas
ILUSTRASI. GEDUNG DANANTARA (KONTAN/Syamsul Ashar)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dampak sektor industri hilirisasi terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dinilai masih terbatas dan belum mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Padahal pemerintah beberapa tahun terakhir gencar mendorong industri ini.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, mengatakan hal ini terjadi karena basis industri hilirisasi di Indonesia belum luas dan strukturnya masih dangkal.

Menurutnya, aktivitas hilirisasi saat ini masih terkonsentrasi pada komoditas tertentu dan bersifat padat modal (capital intensive). Akibatnya, kontribusinya lebih cepat terlihat pada peningkatan investasi, namun belum optimal dalam mendorong output produksi maupun penyerapan tenaga kerja.

Selain itu, terdapat jeda waktu antara pembangunan proyek hilirisasi dengan fase produksi penuh. Di sisi lain, keterkaitan dengan industri domestik masih lemah karena tingginya penggunaan bahan baku dan komponen impor.

Baca Juga: Struktur Industri Pendek, Kontribusi Sektor Hilirisasi ke PDB Masih Minim

“Kombinasi faktor ini membuat hilirisasi belum menjadi motor pertumbuhan yang inklusif dan menyebar,” ujar Rizal kepada Kontan, Minggu (12/4/2026)

Ia menjelaskan, nilai tambah hilirisasi juga masih didominasi pada tahap awal (intermediate), seperti smelter, dan belum terintegrasi hingga menghasilkan produk akhir yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) besar.

Rantai nilai industri yang masih pendek membuat limpahan manfaat (spillover) ke sektor lain seperti manufaktur lanjutan, jasa, hingga UMKM masih terbatas. Alhasil, hilirisasi saat ini lebih banyak meningkatkan ekspor berbasis bahan setengah jadi, namun belum mampu menciptakan ekosistem industri domestik yang kuat.

“Ini menunjukkan transformasi yang terjadi masih parsial, belum menyentuh perubahan struktural,” jelasnya.

Baca Juga: Prabowo Bakal Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi & 29 Titik PSEL di Bulan Ini

Lebih lanjut, ketergantungan terhadap impor bahan pendukung, teknologi, dan barang modal juga masih tinggi. Kondisi ini menyebabkan sebagian nilai tambah dari hilirisasi tidak sepenuhnya dinikmati di dalam negeri.

Dampaknya, kontribusi bersih terhadap PDB maupun penciptaan lapangan kerja menjadi terbatas, sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap tekanan nilai tukar dan gangguan rantai pasok global.

Rizal menegaskan, tanpa peningkatan kandungan lokal serta penguatan industri pendukung dalam negeri, hilirisasi berpotensi menghasilkan pertumbuhan yang “dangkal”, yakni tumbuh secara nominal namun dengan efek pengganda yang relatif kecil terhadap perekonomian nasional.

Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi industri pengolahan (termasuk hilirisasi) terhadap PDB Indonesia tahun 2025 tercatat sebesar 19,07%-19,20%. Khusus untuk sektor mineral dan batu bara (Minerba) menyumbang 12,5% ke PDB. Sejalan dengan itu investasi hilirisasi melonjak drastis atau tumbuh 43,3% year on year/yoy mencapai Rp 584,1 triliun pada 2025 dengan fokus utama pada sektor mineral.

Baca Juga: Rosan: 20 Proyek Hilirisasi Digulirkan, Investasi Capai US$ 26 Miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×