Reporter: Siti Masitoh | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Merespons situasi ekonomi global, khususnya kebijakan ekonomi-politik Presiden Amerika Serikat (AS) yang mengenakan tarif resiprokal kepada Indonesia sebesar 32%, Bank Indonesia (BI) terus memonitor perkembangan dampaknya ke pasar keuangan dalam negeri. Kebijakan tarif ini mulai berlaku pada 9 April 2025.
“Terkait pengumuman kebijakan tarif Trump, BI terus memonitor perkembangan pasar keuangan global dan juga domestik pasca pengumuman kebijakan tarif Trump yang baru pada 2 April 2025,” tutur Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Sabtu (5/4).
Denny menambahkan, pasca pengumuman tersebut dan kemudian disusul oleh pengumuman retaliasi tarif oleh China pada 4 April 2025, pasar bergerak dinamis di mana pasar saham global mengalami pelemahan dan yield US Treasury mengalami penurunan hingga jatuh ke level terendah sejak Oktober 2024.
Baca Juga: Auto Nyesek! Kebijakan Tarif Trump Bikin Harga Mobil di AS Melonjak
Perlu diketahui diketahui, menanggapi kebijakan resiprokal AS, China akan mengenakan tarif 34% pada semua barang yang diimpor dari AS mulai Kamis 10 April 2025.
Lebih lanjut, Denny menyampaikan, BI tetap berkomitmen untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, terutama melalui optimalisasi instrumen triple intervention, diantaranya intervensi di pasar valas pada transaksi spot dan DNDF, serta SBN di pasar sekunder.
Upaya ini dilakukan dalam rangka memastikan kecukupan likuiditas valas untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha serta menjaga keyakinan pelaku pasar.
Selanjutnya: Tarif Impor AS, Asioti Soroti Dampak ke Masa Depan Infrastruktur Digital Indonesia
Menarik Dibaca: Infinix Note 40 HP Keren dengan Spesifikasi Mantap, Cuma 2 Jutaan!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News