kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Setoran PNBP Turun di Januari 2024, Ini Penyebabnya


Selasa, 27 Februari 2024 / 06:46 WIB
Setoran PNBP Turun di Januari 2024, Ini Penyebabnya


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 43,3 triliun per Januari 2024.

Realisasi ini mengalami kontraksi sebesar 5,2% jika dibandingkan dengan setoran di periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 45,7 triliun.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, realisasi tersebut sudah setara 8,8% dari target sebesar Rp 492 triliun. Kontraksi ini disebabkan oleh moderasi harga berbagai komoditas.

"Tahun ini (realisasinya) sedikit di bawah, Rp 43,3 triliun, akibat moderasi harga komoditas yang lebih rendah yaitu seperti minyak dan batubara," ujar Suahasil dalam Konferensi Pers dikutip, Senin (26/2).

Suahasil menyebut, moderasi harga komoditas ini utamanuya tercermin dari pendapatan PNBP SDA migas yang realisasinya senilai Rp 9,5 triliun, atau kontraksi sebesar 18,1%. Hal ini sebagai dampak dari moderasi harga minyak mentah, serta penurunan lifting minyak.

Baca Juga: Pelemahan Daya Beli Masyarakat Pengaruhi Penerimaan Pajak pada Januari 2024

Sementara itu, SDA non migas juga tercatat Rp 9,4 triliun atau mengalami kontraksi 35,6% dikarenakan moderasi harga batu bara. Tidak hanya itu, volume produksi batubara pada Januari 2024 juga melandai karena hanya mencapai 93,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Hanya saja, realisasi PNBP non SDA masih cukup baik. Misalnya, komponen kekayaan negara dipisahkan (KND) membukukan pendapatan sebesar Rp 6,8 triliun atau setara 7,9% dari APBN 2024. Peningkatan sebesar 47,8% ini disumbang oleh setoran dividen interim BUMN perbankan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Kemudian, pendapatan PNBP lainnya tercatat Rp 15,9 triliun atau meningkat 9,65% dibandingkan tahun lalu. Peningkatan ini disumbang oleh kenaikan pendapatan pengembalian belanja tahun anggaran yang lalu (TAYL) dan denda. Sementara, pendapatan dari minyak mentah (DMO) belum terdapat realisasi.

Dan terakhir adalah pendapatan dari Badan Layanan Umum (BLU) yang mencapai Rp 1,7 triliun. Setoran ini melonjak 324,9% yang disumbang dari pendapatan jasa layanan rumah sakit dan jasa layanan pendidikan.

"Sementara untuk BLU kita yang juga cukup besar dari dana perkebunan kelapa sawit belum terdapat penerimaan," katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×