Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah menegaskan komitmen fasilitasi impor produk pertanian senilai US$ 4,5 miliar dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–Amerika Serikat bukan merupakan pembelian yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesiana Haryo Limanseto menyampaikan, pemerintah hanya berperan sebagai regulator dan penjaga standar mutu, sementara seluruh keputusan transaksi dan pembiayaan sepenuhnya berada di tangan sektor swasta dalam skema business-to-business (B2B).
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga hubungan dagang dengan Amerika Serikat sebagai mitra strategis Indonesia.
Baca Juga: Inflasi Tahunan di Februari Diproyeksi Melonjak ke 4,47%, Waspada Daya Beli Tergerus
Pada 2025, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tercatat mencapai US$ 31,0 miliar atau sekitar 11% dari total ekspor nasional sebesar US$ 282,9 miliar. Posisi ini menempatkan AS sebagai tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia.
"Menjaga akses pasar Amerika Serikat melalui pendekatan perdagangan yang seimbang merupakan langkah rasional untuk melindungi daya saing produk nasional," ujar Haryo dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026).
Pasokan Bahan Baku Industri
Pemerintah menekankan kerja sama ini juga penting bagi industri dalam negeri. Indonesia selama ini mengimpor sejumlah komoditas pertanian seperti gandum, yang menjadi bahan baku utama industri pengolahan, termasuk makanan olahan berorientasi ekspor.
Dengan opsi pasokan yang lebih luas dan kompetitif, pelaku usaha dinilai dapat memperoleh bahan baku yang stabil, berkualitas, dan berharga bersaing.
Secara proporsi, pada 2025 total impor Indonesia dari AS untuk kelompok komoditas pertanian tercatat sekitar US$ 1,21 miliar.
Baca Juga: Gejolak Timur Tengah Bisa Kerek Harga Minyak, Bagaimana Efeknya ke Indonesia?
Sementara total impor komoditas pertanian yang sama dari seluruh negara mencapai sekitar US$ 13,2 miliar, sehingga porsi impor dari AS baru sekitar 9,2%.
Sebagai ilustrasi, impor sereal (HS10) dari AS mencapai US$ 375,9 juta dari total US$ 3,7 miliar atau sekitar 10%. Untuk komoditas kedelai (HS12), impor dari AS tercatat US$ 1,0 juta dari total US$ 1,6 miliar.
"Hal tersebut menunjukkan ruang penyesuaian pasokan tetap berbasis pertimbangan komersial dan tidak menimbulkan beban fiskal," katanya.
Didukung Kadin dan Apindo
Komitmen fasilitasi tersebut telah ditindaklanjuti melalui Nota Kesepahaman (MoU) antara perusahaan terkait dalam dua tahap, yakni pada 7 Juli 2025 dan dalam Indonesia–AS Business Summit pada 19 Februari 2026.
Baca Juga: CORE Soroti Rencana Dana Desa untuk Pengadaan 105.000 Pikap Impor
Proses ini turut didukung asosiasi pelaku usaha seperti Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).
Pemerintah menegaskan akan terus memastikan seluruh impor memenuhi standar mutu dan keamanan yang berlaku.
Jika terjadi gangguan terhadap pasar domestik, pemerintah menyatakan siap mengambil langkah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













