kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

SBY: Demokrat dibilang bunglon, itu salah besar!


Kamis, 11 Desember 2014 / 20:12 WIB
SBY: Demokrat dibilang bunglon, itu salah besar!
ILUSTRASI. Gangguan Kesehatan Jika Sering Kesemutan.


Sumber: Kompas.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan partainya tidak masuk koalisi mana pun. Meski tak masuk kubu mana pun, SBY menampik apabila Partai Demokrat tak melakukan kontribusi apa pun.

"Kalau Partai Demokrat tidak masuk ke salah satu koalisi, tidak berarti Partai Demokrat tidak punya prinsip atau posisi. Ada yang katakan bunglon, itu salah besar," ujar SBY usai rapat pleno DPP Partai Demokrat, Kamis (11/12).

SBY membandingkan dengan kondisi saat Perang Dingin di mana ada blok barat yang diisi oleh negara-negara kapitalis dan blok timur yang diisi oleh negara-negara komunis. Indonesia, sebut SBY, berada di tengah dengan non-blok.

"Jadi kami meski tidak masuk dua koalisi, akan tetap partisipatif sambil mendengarkan keinginan rakyat. Mari berpartner dengan baik. Ada KIH, KMP, pemerintah dan presiden, alangkah bagusnya politik seperti itu," ucap SBY.

Seperti diketahui, Partai Demokrat selama ini mendeklarasikan diri sebagai partai penyeimbang. Namun, posisi Partai Demokrat itu yang dipertanyakan. Sebab, Demokrat bergabung dengan Koalisi Merah Putih saat pemilihan pimpinan DPR dan MPR. Tetapi soal Pilkada, Partai Demokrat mendukung pilkada langsung, berbeda dengan KMP yang menggolkan Undang Undang Pilkada yang mengatur pilkada melalui DPRD.

Ketua Harian Partai Demokrat Syarief Hasan menampik anggapan partainya yang justru memecah belah KMP dengan mengambil posisi di tengah.

"Kok bisa disebut pemecah KMP? Kalau kemarin datang ke Jokowi. Jangan salahkan orangnya, jangan dilimpahkan dong. Aneh juga saya pikir," kata Syarief. (Sabrina Asril)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×