Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kurs rupiah tengah melemah terhadap dolar AS. Imbasnya cadangan devisa Indonesia pun ikut menyusut untuk menjaga stabilitas rupiah.
Posisi cadangan devisa Indonesia turun dari US$ 156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi US$ 151,9 miliar pada Februari 2026. Artinya, dalam waktu dua bulan saja, cadev telah menyusut sekitar US$ 4,6 miliar. Di saat yang sama, tekanan terhadap rupiah juga masih berlanjut hingga Maret 2026.
Kamis (2/4/2026) sebelum libur panjang, kurs rupiah di pasar spot melemah 0,11% menjadi Rp 17.002 per dolar AS.
Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk, Banjaran Surya Indrastomo mengatakan, kondisi tersebut tidak semata-mata mencerminkan lemahnya fundamental domestik, melainkan lebih dipengaruhi faktor eksternal yang cukup kuat.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Defisit Neraca Transaksi Berjalan Bisa Melebar, Rupiah Terpukul
Tingginya suku bunga di AS masih menjadi pendorong utama keluarnya arus modal (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, terdapat pula faktor musiman berupa meningkatnya kebutuhan valas untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri.
“Sehingga bukan semata refleksi pelemahan fundamental domestik,” tutur Banjaran kepada Kontan, Minggu (5/4/2026).
Banjaran melihat,respons kebijakan yang dilakukan saat ini merupakan bentuk sinergi antara otoritas fiskal dan moneter, bukan dominasi salah satu pihak.
Ia bilang, Bank Indonesia (BI) memang aktif menggunakan berbagai instrumen pro-market seperti Sekuritas Valas Bank Indonesia (SUVBI) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menjaga stabilitas pasar keuangan dan daya tarik aset domestik. Namun, langkah tersebut tidak sepenuhnya mengandalkan cadangan devisa.
Sementara itu, pemerintah tetap berperan dalam menjaga disiplin fiskal, meskipun kebijakan belanja negara saat ini cenderung lebih ekspansif untuk menopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga: Harga Minyak Melambung, SAL Bisa Jadi Bantalan Fiskal?
Dari sisi fundamental, Banjaran menilai, kondisi ekonomi domestik masih cukup solid. Inflasi yang terjaga serta pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan mencapai 5,4% pada kuartal I-2026 menjadi penopang utama stabilitas rupiah.
Dengan kondisi tersebut, ia memperkirakan nilai tukar rupiah secara fundamental berada di kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.950 per dolar AS.
Dalam jangka pendek, Banjaran juga memproyeksikan cadangan devisa berpotensi kembali meningkat. Pada Maret 2026, posisi cadev diperkirakan naik ke sekitar US$ 154 miliar, didorong oleh penerbitan obligasi global dalam denominasi yuan China (CNY) dan euro (EUR) pada awal bulan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












