Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah makin melemah. Senin (30/3/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot berakhir ke level terburuk sepanjang masa dan tembus Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Senin (30/3/2026), rupiah spot ditutup melemah 0,13% ke Rp 17.002 per dolar AS.
Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi mengatakan, dari sisi target asumsi makro pemerintah dan realitas tekanan pasar, posisi rupiah saat ini masih jauh dari ideal.
Ia melihat, pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan kondisi fundamental yang sedang tertekan, bukan sekadar fluktuasi jangka pendek.
“Berdasarkan data pasar spot terbaru, rupiah bergerak di kisaran Rp 16.984 hingga Rp 17.000 per dolar AS. Angka ini sudah jauh melampaui asumsi awal makro ekonomi kita. Bahkan, beberapa analis mulai mewaspadai risiko teknis jika menembus level psikologis baru, mengingat volatilitas yang dipicu oleh eskalasi di Timur Tengah,” ujar Rahma saat dihubungi Kontan, Senin (30/3/2026).
Baca Juga: Prabowo Ajak Pengusaha Jepang Investasi di Indonesia, Ini yang Ditawarkan
Indonesia memang masih memiliki bantalan berupa cadangan devisa yang relatif kuat, yakni di atas US$ 150 miliar. Cadangan ini memberi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi di pasar guna meredam gejolak.
Namun, Rahma mengingatkan, intervensi BI memiliki keterbatasan. “Intervensi ini hanya bersifat meredam ledakan volatilitas, bukan membalikkan arah tren yang didorong oleh sentimen global yang masif,” ujarnya.
Ia menyebut, saat ini sentimen global menjadi faktor dominan yang menekan rupiah, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga penguatan dolar AS. Meski begitu, faktor domestik juga turut memperberat tekanan, terutama dari sisi fiskal.
Menurut Rahma, belanja fiskal yang semakin besar berpotensi menambah beban terhadap stabilitas rupiah. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, kondisi ini dapat memperdalam tekanan terhadap mata uang domestik.
Rahma memperkirakan peluang rupiah bisa semakin anjlok dalam jangka pendek, khususnya pada kuartal II-2026.
“Jika tekanan berlanjut, target pelemahan berikutnya berada di kisaran Rp 17.150, bisa juga sampai Rp 17.250. Saya melihat potensi konsolidasi di rentang ini jika BI melakukan intervensi agresif di pasar spot dan DNDF,” tambahnya.
Baca Juga: Ekonomi Kuartal I-2026 Diprediksi Tumbuh 5,05%, Ditopang Konsumsi Ramadan-Lebaran
Selain itu, konflik di Timur Tengah yang belum mereda turut mendorong harga minyak dunia tetap tinggi. Bahkan, harga minyak jenis Brent Crude Oil dilaporkan masih bertahan di atas US$ 100 per barel.
“Sebagai net importir minyak, tekanan terhadap neraca perdagangan kita sangat masif, yang secara otomatis menekan Rupiah. Harus ada langkah konkrit untuk memitigasi hal ini. Mengingat kondisi fiskal kita sedang tidak baik-baik saja,” kata Rahma.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












