Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menyentuh level terlemah sepanjang sejarah. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), rupiah sempat anjlok ke level Rp 17.521 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 10.04 WIB.
Merespons pelemahan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini Bank Indonesia masih mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global.
“Kita serahkan itu ke ahlinya di sana, di Bank Sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan dengan baik,” ujar Purbaya kepada awak media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).
Purbaya mengakui posisi rupiah saat ini sudah jauh melampaui asumsi makro nilai tukar dalam APBN 2026 yang berada di kisaran Rp 16.500 per dolar AS.
Baca Juga: Purbaya Tutup Keran Tax Amnesty, Kecuali Diperintah Presiden
Meski demikian, ia menilai kondisi fiskal pemerintah masih relatif aman karena perhitungan APBN sebelumnya telah memperhitungkan potensi tekanan terhadap rupiah.
Menurut dia, pemerintah juga akan mulai membantu stabilisasi pasar melalui instrumen Bond Stabilization Fund (BSF). Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar obligasi sekaligus menahan kenaikan yield surat utang negara agar tidak terlalu tinggi.
Purbaya menjelaskan, lonjakan yield obligasi berisiko memicu capital loss bagi investor asing yang memegang surat utang domestik. Jika kondisi itu terjadi, investor asing berpotensi keluar dari pasar keuangan Indonesia dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Karena itu, pemerintah akan melakukan intervensi secara bertahap di pasar obligasi guna menjaga minat investor asing tetap bertahan di pasar domestik.
“Kita nggak mau yield-nya terlalu tinggi. Kalau yield naik terlalu tinggi, asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss. Dia akan keluar. Jadi kita kendalikan itu supaya asing nggak keluar atau malah masuk,” kata Purbaya.
Baca Juga: Purbaya Janji Benahi Aturan Pajak yang Bikin Pegawai Ragu Bertindak
Ia berharap langkah stabilisasi tersebut dapat membantu memperbaiki sentimen pasar dan mendorong penguatan rupiah ke depan.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan BSF merupakan bagian dari Bond Stabilization Framework yang sebelumnya pernah digunakan pemerintah saat tekanan pasar meningkat.
Melalui mekanisme tersebut, pemerintah dapat melakukan pembelian SBN di pasar sekunder ketika volatilitas pasar obligasi meningkat tajam.
Juda mengatakan skema itu tidak harus menunggu kondisi krisis penuh untuk diaktifkan. Pemerintah dapat mulai menggunakan instrumen tersebut sejak pasar memasuki level waspada.
Menurut dia, penilaian kondisi pasar dilakukan berdasarkan sejumlah indikator, termasuk lonjakan yield dan volatilitas di pasar obligasi.
“Kalau Kementerian Keuangan tujuannya untuk menjaga agar yield tidak melonjak terlalu signifikan,” ujar Juda belum lama ini.
Baca Juga: Gaduh Ruang Digital, Menaker Yassierli Dorong Sertifikasi Pekerja Bidang Komunikasi
Ia menambahkan sumber dana BSF berasal dari cadangan fiskal pemerintah, termasuk saldo anggaran lebih (SAL) dan dana cadangan lain yang memang disiapkan untuk menghadapi tekanan pasar.
Meski demikian, Juda menilai kondisi pasar keuangan saat ini masih dalam kategori normal sehingga instrumen BSF belum diaktifkan sepenuhnya. Pemerintah dan Bank Indonesia juga disebut terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan pasar keuangan domestik dan global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













