Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Ibrahim menilai faktor lain yang turut memberi sentimen buruk bagi rupiah adalah utang jatuh tempo pemerintah senilai Rp 833,96 triliun.
Menurutnya, pemerintah menghadapi tekanan likuiditas besar pada 2026, seiring jatuh tempo utang yang mencapai Rp 833,96 triliun, level tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Lonjakan kewajiban itu menandai fase krusial pengelolaan fiskal, di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan ketidakpastian pasar keuangan global.
“Fenomena ini sebagai tembok utang atau debt wall, yakni kondisi ketika beban jatuh tempo utang menumpuk dalam satu periode tertentu. Nilai jatuh tempo 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan 2025 yang sebesar Rp 800,33 triliun, dan menjadi puncak dalam siklus pembayaran utang periode 2025-2036,” ungkap dia.
Besarnya kewajiban tersebut merupakan akumulasi penerbitan utang pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk skema burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) selama pandemi Covid-19.
Dari total jatuh tempo 2026, sekitar Rp 154,5 triliun berasal dari instrumen hasil kerja sama tersebut.
Tonton: Tiga Pabrik Tekstil Dibangun di Subang, Potensi Serap 3.800 Tenaga Kerja
Besarnya volume utang yang harus dibayar memaksa pemerintah melakukan strategi pembiayaan ulang (refinancing) dalam skala besar. Namun, langkah ini tidak lepas dari risiko.
Selain itu, Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan alias BI Rate di level 4,75%.
Sejalan dengan itu, bank sentral juga tetap mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 3,75%, dan suku bunga Lending Facility 5,5%.
Keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.
(Suparjo Ramalan , Aprillia Ika)
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/04/26/072401826/rupiah-diproyeksi-sentuh-rp-17400-per-dollar-as-seberapa-kuat-fiskal-indonesia?page=all#page1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













