Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi baik di pasar domestik maupun internasional untuk menjaga stabilitas rupiah. Strategi dilakukan melalui transaksi valuta asing dan pembelian surat berharga negara di pasar obligasi.
Namun, efektivitas intervensi menjadi terbatas karena tekanan eksternal masih kuat, terutama faktor geopolitik di Timur Tengah, penguatan dollar AS, dan lonjakan harga minyak.
Kondisi itu memicu kebutuhan dollar yang tinggi di dalam negeri, sehingga tekanan terhadap rupiah tetap besar.
“Tetapi intervensi ini ya tidak akan kuat karena apa? Kondisi geopolitik yang cukup besar. Ini membuat goncangan terhadap rupiah ini begitu kuat. Sehingga apa? Sehingga rupiah kembali mengalami pelemahan,” beber Ibrahim.
Kebijakan BI dipandang dalam koridor yang tepat dan cukup efektif meredam volatilitas jangka pendek. Menurutnya, tekanan akan lebih terkendali jika harga minyak dan penguatan dollar AS tidak terus berlanjut.
“Ini saya anggap masih efektif karena selama ini Bank Indonesia di situ ya melakukan intervensinya. Jadi tidak kemana-mana dan hanya fokus terhadap apa yang sesuai dengan kebijakan-kebijakan bank sentral,” tukas dia.
Ibrahim menyebut inti persoalan terletak pada lonjakan harga minyak dunia yang mendorong kebutuhan dollar semakin tinggi.
Sebagai negara yang masih mengimpor sekitar 1,5 juta barrel minyak per hari, setiap kenaikan harga minyak otomatis memperbesar nilai impor yang harus dibayar dalam dollar AS.
Saat asumsi awal APBN bahwa rupiah di kisaran Rp 16.500 per dollar AS dan harga minyak US$ 70 per barrel, beban yang ditanggung masih relatif terkendali.
Namun ketika harga minyak naik di atas US$ 90 per barrel dan rupiah melemah hingga Rp 17.300 per dollar AS, kebutuhan pembiayaan melonjak signifikan.
Selisih ini membuat pemerintah membutuhkan dana talangan untuk menutup lonjakan biaya, terutama dari impor energi dan subsidi.
Baca Juga: BRIN Sulap Sampah Plastik Jadi BBM Petasol Setara Diesel, Keuntungan Rp 4.700/Liter
Kenaikan yang signifikan pada harga minyak dan pelemahan rupiah menyebabkan kebutuhan dollar menjadi meningkat. Ketika permintaan dollar dalam jumlah besar tidak diimbangi dengan pasokan yang cukup, nilai dollar AS menjadi semakin mahal.
Dampaknya, beban subsidi energi ikut membengkak karena pemerintah harus menutup selisih harga yang semakin lebar, baik akibat kenaikan harga minyak maupun pelemahan nilai tukar rupiah.
“Impor minyak kita itu 1,5 juta barrel per hari ya. Artinya apa? Pada saat dulu dipatok di Rp 16.500, kemudian minyaknya di US$ 70 per barrel, sekarang naik di atas US$ 90, kemudian rupiah-nya di Rp 17.300,” ucapnya.
“Sehingga apa? Sehingga ini kan perlu dana talangan. Nah kenaikan cukup signifikan sehingga pemerintah butuh dollar yang cukup banyak. Kenapa butuh dollar yang banyak inilah yang membuat harga dollar semakin tinggi dan Indonesia subsidi-nya semakin besar,” lanjut Ibrahim.













