Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan dollar Amerika Serikat (AS). Bahkan, mata uang Garuda sempat menembus level Rp 17.300 per dollar AS, yang memicu kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal negara.
Adapun, nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 57 poin atau 0,33 persen ke posisi Rp 17.229 per dollar AS, saat penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026).
Kendati demikian, rupiah pada pekan depan diproyeksikan bergerak di area Rp 17.180 hingga Rp 17.400 per dollar AS.
“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.220 hingga Rp 17.260. Rupiah untuk sepekan di range Rp 17.180 hingga Rp 17.400,” ujar Analis mata uang Ibrahim Assuaibi, Sabtu (25/4/2026).
Ibrahim menyebut tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Ada sentimen global dan domestik yang mendorong mata uang Nusantara fluktuatif dan cenderung melemah sejak beberapa pekan terakhir.
Sentimen tersebut terdiri dari kenaikan harga minyak dunia, penguatan dollar AS, hingga meningkatnya kebutuhan dollar di dalam negeri.
Mengutip Reuters pada Jumat (24/4/2026), harga minyak mentah Brent naik US$ 3,16 atau 3,1% ke level 105,07 dollar AS per barrel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak US$ 2,89 atau 3,11% menjadi US$ 95,85 per barrel.
Kenaikan harga bahkan sempat mencapai US$ 5 per barrel pada sesi perdagangan Kamis kemarin, sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatan.
Dalam asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026, pemerintah menetapkan harga minyak sekitar US$ 70 per barrel dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp 16.500 per dollar AS.
Baca Juga: 10 Tugas Manajer Kopdes BUMN: Dari Kelola Toko Hingga Target Profit
Namun realisasinya jauh meleset, di mana harga minyak sudah melonjak di atas US$ 90 per barrel, sementara rupiah justru melemah dan sempat menembus Rp 17.300 per dollar AS.
Ketidaksesuaian antara asumsi dan realisasi diprediksi memberi tekanan langsung pada anggaran negara. Kenaikan harga minyak membuat beban subsidi energi meningkat, sementara pelemahan rupiah memperbesar biaya impor, khususnya untuk kebutuhan energi yang masih bergantung terhadap luar negeri.
Akibatnya, kebutuhan pembiayaan pemerintah menjadi lebih besar dari yang direncanakan. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya tekanan fiskal dan berpotensi mendorong defisit anggaran semakin melebar.
“Nah pelemahan rupiah ini karena apa? Karena kondisi ekonomi di Indonesia pun juga terguncang. Dengan naiknya harga minyak yang kita lihat dari APBN itu hanya US$ 70 per barrel, kemudian di APBN juga rupiah itu dipatok di Rp 16.500, kenyataannya harga minyak itu sudah di atas US$ 90 per barrel,” ucap Ibrahim saat dihubungi Kompas.com.
“Kemudian rupiah itu pun juga sudah di atas Rp 16.700. Bahkan di Rp 17.300, ini mengindikasikan fiskal kita ini mengalami satu permasalahan, ini yang akan berdampak terhadap apa? Terhadap defisit anggaran,” paparnya.
Defisit anggaran yang mendekati batas 3% harus dijaga pemerintah untuk mempertahankan kredibilitas fiskal. Batas ini bukan sekadar angka, tetapi menggambarkan disiplin pengelolaan keuangan negara agar tetap sehat.
Baca Juga: Subsidi PPN Tiket Pesawat Resmi Diberlakukan, Berlaku 60 Hari Saja!












