Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) mencatat dalam jangka pendek, konsumsi rumah tangga masih menunjukkan ketahanan, terutama didukung oleh faktor musiman dan kebijakan pemerintah.
Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia menunjukkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 6,5% secara tahunan pada Februari 2026 ke level 232,7, serta berbalik naik 4,1% secara bulanan setelah sebelumnya mengalami kontraksi.
Peningkatan ini terutama didorong oleh permintaan yang lebih kuat pada kelompok suku cadang & aksesori, makanan & minuman, serta sandang, yang mencerminkan pola belanja menjelang Ramadan. Meskipun BI memperkirakan kenaikan lanjutan pada Maret seiring puncak konsumsi lebaran, tetap diperlukan kehati-hatian.
Baca Juga: Audit BPK Temukan Tujuh Catatan dalam Pemeriksaan Kinerja Perpajakan
“Kami melihat penguatan ini sebagian besar bersifat musiman, didorong oleh pencairan tunjangan hari raya (THR), promosi, dan percepatan belanja, sehingga momentum tersebut kemungkinan tidak akan berlanjut setelah periode libur berakhir,” ujar Novani Karina Saputri, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada Rabu (15/4/2026).
Meski kinerja ritel saat ini cukup kuat, Novani melihat indikator ke depan menunjukkan outlook yang lebih berhati-hati. Ekspektasi penjualan masih berada di zona optimis, dengan indeks sebesar 147,2 untuk tiga bulan ke depan dan 162,4 untuk enam bulan ke depan, yang mencerminkan permintaan masih akan tumbuh dari sisi pelaku usaha.
Namun demikian, tekanan harga mulai meningkat, tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) yang mencapai 157,4 untuk Mei 2026, mengindikasikan adanya risiko kenaikan inflasi. Kondisi ini berpotensi mulai menggerus daya beli masyarakat, terutama setelah efek sementara dari musim lebaran mulai mereda.
“Ke depan, kami memperkirakan konsumsi rumah tangga dan aktivitas ritel akan cenderung melambat, dengan risiko penurunan yang semakin terlihat,” ucap Novani.
Novani mengatakan bahwa normalisasi permintaan pasca-lebaran, melemahnya kepercayaan konsumen, serta tekanan eksternal seperti risiko geopolitik dan volatilitas nilai tukar berpotensi menahan permintaan domestik. Selain itu, kebijakan Bank Indonesia yang fokus menjaga stabilitas rupiah melalui pengetatan likuiditas juga dapat membatasi pertumbuhan konsumsi.
“Secara keseluruhan, meskipun tekanan jangka pendek masih tertahan oleh kebijakan subsidi dan faktor musiman, momentum konsumsi diperkirakan akan melemah dalam beberapa kuartal ke depan,” pungkas Novani.
Baca Juga: Anggaran Haji Membengkak Rp1,77 Triliun Akibat Harga Avtur Naik, Siapa yang Tanggung?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













