Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie, kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Mengutip laporan Reuters yang merangkum penelitian Steve Hanke dan Nicholas Krus berjudul “World Hyperinflations” pada 2012, hiperinflasi didefinisikan secara kuantitatif sebagai kondisi ketika harga naik minimal 50% per bulan.
Penelitian tersebut mencatat terdapat sekitar 56–57 kejadian hiperinflasi dalam sejarah dunia, dan semuanya terjadi dalam kondisi ekonomi ekstrem.
Contohnya termasuk hiperinflasi di Jerman pada era Weimar yang mencapai 29.500% per bulan pada 1923, hingga Zimbabwe pada 2008 yang mencapai miliaran persen per bulan.
Yang menarik, studi tersebut menunjukkan bahwa hiperinflasi tidak pernah muncul di negara dengan ekonomi stabil dan sistem politik yang kuat.
Hiperinflasi umumnya terjadi akibat perang, runtuhnya rezim, atau penurunan produksi besar-besaran, bukan karena kebijakan teknis ekonomi semata.
Tonton: SPBU Swasta Sudah Beli Solar dari Pertamina, Pemerintah Stop Impor Solar Tahun Ini
Dengan kata lain, hiperinflasi lebih merupakan gejala dari krisis politik dan ekonomi yang dalam, bukan fenomena yang muncul secara normal dalam negara demokrasi yang stabil.
(Alicia Diahwahyuningtyas, Albertus Adit)
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/07/210000965/menteri-purbaya-bantah-isu-hiperinflasi-ini-penyebab-dan-tandanya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













