kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Ramai Isu Hiperinflasi, Menkeu Purbaya Buka-Bukaan Kondisi Ekonomi RI


Jumat, 08 Mei 2026 / 07:30 WIB
Ramai Isu Hiperinflasi, Menkeu Purbaya Buka-Bukaan Kondisi Ekonomi RI
ILUSTRASI. Kekhawatiran hiperinflasi di Indonesia ditepis Menkeu Purbaya. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie, kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa risiko hiperinflasi di Indonesia masih jauh dari kenyataan. Ia sekaligus menepis kekhawatiran sejumlah pihak yang menilai Indonesia menuju lonjakan harga tidak terkendali.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

Menurut dia, kondisi inflasi Indonesia saat ini masih terjaga dengan baik. Ia menyebut inflasi pada April 2026 berada di kisaran 2,4%.

“Ada yang bilang hiperinflasi baru-baru ini di TikTok. Kita menuju hiperinflasi, padahal dia enggak tahu definisi hiperinflasi itu apa,” ujar Purbaya.

Ia menegaskan, inflasi sebesar 4-5% pun belum bisa disebut sebagai hiperinflasi.

“Bisa 4%, bisa 5%. Itu bukan hiperinflasi ya. Tapi dia nakut-nakutin,” lanjutnya.

Tingkat inflasi di Indonesia 2,4%

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan laju inflasi tahunan Indonesia pada April 2026 mencapai 2,42% secara year on year (yoy).

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebesar 3,48%.

Menurut Purbaya, angka itu menunjukkan kondisi inflasi masih dalam batas aman meski harga sejumlah barang mengalami kenaikan.

Baca Juga: Jaga Stabilitas Pasar Surat Utang, Pemerintah Siapkan Bond Stabilization Fund

“Terakhir hanya April itu 2,4%. Itu angka yang saya sebutkan selama ini, jadi masih terkendali,” kata dia.

Purbaya menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh dari situasi hiperinflasi. Pemerintah, kata dia, terus berupaya menjaga stabilitas inflasi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.

Tabel kondisi inflasi Indonesia

Indikator Data Penjelasan
Inflasi April 2026 (yoy) 2,42% Masih rendah dan terkendali
Inflasi Maret 2026 3,48% Lebih tinggi dari April
Ambang hiperinflasi >30–40% per bulan Jauh di atas kondisi saat ini
Kondisi Indonesia saat ini Stabil Tidak masuk kategori hiperinflasi

Lantas, apa sebenarnya hiperinflasi?

Apa itu hiperinflasi?

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menjelaskan, hiperinflasi merupakan kondisi ketika inflasi melonjak sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 30 hingga 40% per bulan.

Dalam kondisi tersebut, harga barang dan jasa naik sangat cepat dan tidak terkendali dalam waktu singkat.

“Saat ini, inflasi kita sekitar 3% per tahun, masih termasuk tingkat inflasi yang sehat,” ujar Wijayanto saat dihubungi, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, hiperinflasi biasanya terjadi ketika kepercayaan terhadap mata uang runtuh akibat perang, krisis politik, atau pemerintah mencetak uang secara berlebihan.

Menurutnya, hiperinflasi juga dapat dipicu oleh pertumbuhan jumlah uang beredar yang terlalu cepat dan ketidakseimbangan antara permintaan serta pasokan barang.

Akibatnya, nilai mata uang anjlok dan harga kebutuhan sehari-hari melonjak drastis dalam waktu singkat.

“Kita pernah mengalami hiperinflasi pada 1960-an akibat pemerintah mencetak uang berlebih dan terjadi krisis politik,” jelasnya.

Meski tingkat inflasi Indonesia saat ini masih rendah, Wijayanto mengingatkan bahwa daya beli masyarakat sedang melemah sehingga harga barang terasa semakin mahal.

“Dalam tujuh tahun terakhir, pertumbuhan daya beli nominal berada di bawah tingkat inflasi. Artinya, secara riil daya beli masyarakat terus menurun,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Pertalite Asli Lebih Mahal dari Pertamax, Kok Bisa? Ini Penjelasan Pakar

Tabel penyebab hiperinflasi 

Penyebab Penjelasan
Pencetakan uang berlebih Nilai uang turun drastis
Krisis politik/perang Kepercayaan ekonomi runtuh
Lonjakan uang beredar Permintaan tidak seimbang dengan barang
Turunnya produksi Barang langka, harga naik cepat

Hiperinflasi hampir tidak terjadi di negara stabil

Mengutip laporan Reuters yang merangkum penelitian Steve Hanke dan Nicholas Krus berjudul “World Hyperinflations” pada 2012, hiperinflasi didefinisikan secara kuantitatif sebagai kondisi ketika harga naik minimal 50% per bulan.

Penelitian tersebut mencatat terdapat sekitar 56–57 kejadian hiperinflasi dalam sejarah dunia, dan semuanya terjadi dalam kondisi ekonomi ekstrem.

Contohnya termasuk hiperinflasi di Jerman pada era Weimar yang mencapai 29.500% per bulan pada 1923, hingga Zimbabwe pada 2008 yang mencapai miliaran persen per bulan.

Yang menarik, studi tersebut menunjukkan bahwa hiperinflasi tidak pernah muncul di negara dengan ekonomi stabil dan sistem politik yang kuat.

Hiperinflasi umumnya terjadi akibat perang, runtuhnya rezim, atau penurunan produksi besar-besaran, bukan karena kebijakan teknis ekonomi semata.

Tonton: SPBU Swasta Sudah Beli Solar dari Pertamina, Pemerintah Stop Impor Solar Tahun Ini

Dengan kata lain, hiperinflasi lebih merupakan gejala dari krisis politik dan ekonomi yang dalam, bukan fenomena yang muncul secara normal dalam negara demokrasi yang stabil.

(Alicia Diahwahyuningtyas, Albertus Adit)

Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/07/210000965/menteri-purbaya-bantah-isu-hiperinflasi-ini-penyebab-dan-tandanya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×