kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.878.000   -40.000   -1,37%
  • USD/IDR 16.901   42,00   0,25%
  • IDX 8.310   97,96   1,19%
  • KOMPAS100 1.169   11,37   0,98%
  • LQ45 839   8,86   1,07%
  • ISSI 297   2,12   0,72%
  • IDX30 438   6,14   1,42%
  • IDXHIDIV20 525   8,40   1,63%
  • IDX80 130   1,09   0,85%
  • IDXV30 143   1,04   0,73%
  • IDXQ30 141   2,01   1,45%

Ramadhan 2026 Diprediksi Jadi Puncak Laporan SPT, Ini Panduan Lapor SPT Via Coretax


Rabu, 18 Februari 2026 / 16:03 WIB
Ramadhan 2026 Diprediksi Jadi Puncak Laporan SPT, Ini Panduan Lapor SPT Via Coretax
ILUSTRASI. Ramadhan 2026 Diprediksi Jadi Puncak Laporan SPT, Ini Panduan Lapor SPT Via Coretax


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan diinstruksikan siaga menghadapi lonjakan jumlah pelapor Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak Tahunan 2025 pada bulan suci Ramadhan ini. Pasalnya, masih banyak wajib pajak yang belum lapor SPT Pajak Tahunan 2025.

Sementara itu, batas akhir laporan SPT Pajak tahun 2025 adalah 31 Maret 2026 untuk wajib pajak pribadi. Diprediksi, wajib pajak memanfaatkan waktu pada Ramadhan ini untuk lapor SPT. Berikut  contoh dan panduan lengkap cara lapor SPT pajak melalui akun Coretax. 

Diberitakan Kompas.com, berdasarkan data DJP per 18 Februari 2026, tercatat 2.906.662 wajib pajak telah menyampaikan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak 2025.

Rinciannya:

- 2.552.771 wajib pajak orang pribadi karyawan  
- 270.960 wajib pajak orang pribadi non karyawan  
- 82.229 wajib pajak badan (denominasi rupiah)  
- 92 wajib pajak badan (denominasi dolar AS)  

Baca Juga: Mensos Siapkan Rp 2 Triliun Untuk Korban Bencana Sumatra, Ini Peruntukannya

Tambahan pelaporan dari wajib pajak dengan tahun buku berbeda sejak 1 Agustus 2025 tercatat:

- 594 badan (rupiah)  
- 16 badan (dolar AS)  

Mayoritas pelaporan berasal dari wajib pajak dengan tahun buku Januari–Desember. 

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menyampaikan bahwa periode Ramadhan hingga April berpotensi memicu lonjakan pelaporan. 

“Ini mengingat batas lapor SPT Tahunan Orang Pribadi pada 31 Maret 2026 dan 30 April 2026 untuk batas lapor SPT Tahunan Badan. Kita paham bulan Ramadan ini mempersingkat waktu pelayanan, tetapi hal itu tidak mengurangi pelayanan prima kepada wajib pajak,” ujarnya dalam Kick Off Ngabuburit Spectaxcular 2026 di Auditorium Cakti Buddhi Bhakti, Kantor Pusat DJP, Jakarta Selatan, Rabu (18/2/2026).

Program “Kami Dampingi Sampai Berhasil”

Untuk mengantisipasi lonjakan pelaporan, DJP menyiapkan kegiatan bertajuk Kami Dampingi Sampai Berhasil.

Program ini melibatkan:

- 500 Relawan Pajak untuk Negeri  
- 55 pembina tax center wilayah Jabodetabek  
- Ribuan relawan daring di seluruh Indonesia  

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP, Inge Diana Rismawanti, menyebut kampanye ini memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai ruang interaksi antara petugas dan wajib pajak.

“Kita damping wajib pajak sampai selesai melakukan pelaporan SPT Tahunan Tahun Pajak 2025 memanfaatkan Coretax DJP. Petugas pajak dan Renjani siap memberikan asistensi dan edukasi sambil ngabuburit menanti buka puasa,” jelasnya.

Tonton: Khamenei Ancam Tenggelamkan Kapal Perang AS!

Spectaxcular 2026 Digelar Saat Ramadhan

Spectaxcular merupakan agenda rutin DJP sejak 2016. Seluruh kantor pajak secara serentak mengajak wajib pajak melapor sekaligus membuka layanan asistensi dengan dukungan relawan.

Tahun ini, kegiatan dikemas dengan konsep ngabuburit karena musim pelaporan bertepatan dengan Ramadhan.

DJP mengimbau wajib pajak untuk tidak menunda pelaporan hingga mendekati batas waktu guna menghindari antrean dan potensi gangguan sistem akibat lonjakan akses.

Dengan dukungan relawan, tax center, dan layanan asistensi selama Ramadhan, DJP berharap tingkat kepatuhan pelaporan tetap terjaga meskipun waktu pelayanan relatif lebih singkat.

Pelaporan dapat dilakukan secara daring melalui sistem Coretax DJP agar proses lebih cepat dan praktis.

Tonton: Tambang Emas BRMS di Palu Disegel Pemerintah, Ini Klarifikasi BRMS

Cara lapor SPT dengan Coretax 

Mulai tahun 2026 ini, DJP mewajibkan wajib pajak menggunakan akun Coretax untuk administrasi perpajakan termasuk lapor SPT. Jika Anda belum aktivasi akun Coretax, ikuti panduan berikut:

  1. Masuk ke alamat https://coretaxdjp.pajak.go.id.
  2. Bagi wajib pajak yang telah memiliki akun DJP Online dan nomor induk kependudukan (NIK) yang telah dipadankan dengan nomor pokok wajib pajak (NPWP), silahkan memilih “Lupa Kata Sandi”.
  3. Kemudian, masukkan NIK di kolom yang tersedia. Setelah itu, pilih tujuan konfirmasi, apakah melalui email atau nomor gawai.
  4. Silahkan ketik ulang alamat email dan nomor gawai yang sesuai.
  5. Masukkan captcha, beri ceklis pada “Pernyataan”, kemudian klik “Kirim”.
  6. Setelah itu, buka kotak masuk email Anda dan klik link ubah password yang tertera, dan buat password barunya sesuai keinginan.
  7. Setelah berhasil membuat password, log in ke Coretax menggunakan NIK dan password yang telah dibuat.

Tonton: Banyak Oknum Pajak Korupsi, Ini Saran Pembenahan dari Pengamat

Langkah berikutnya adalah membuat kode otorisasi/sertifikat elektronik. Berikut cara membuat kode otorisasi DJP:

  1. Akses menu “Portal Saya” submenu “Permintaan Kode Otorisasi/Sertifikat Elektronik”.
  2. Pada isian “Jenis Sertifikat Digital”, pilih “Kode Otorisasi DJP” dan kita buat passphrase-nya
  3. Ceklis pada “Pernyataan*” dan klik “Simpan”.

Tonton: Harga Logam Mulia Menguat di Awal 2026, Didukung Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga

Panduan lapor SPT di Coretax

Berikut cara lapor  SPT Tahunan di Coretax:

  • Pilih menu “Surat Pemberitahuan (SPT)”,
  • Kemudian masuk ke submenu “Surat Pemberitahuan (SPT)”.
  • Klik “Buat Konsep SPT”, pilih “PPh Orang Pribadi”, kemudian klik “Lanjut”.
  • Untuk isian “Jenis Periode SPT”, pilih “SPT Tahunan”, sedangkan “Periode dan Tahun Pajak” pilih “Januari 2025–Desember 2025”, kemudian klik “Lanjut”.
  • Setelah itu, untuk “Model SPT” pilih “Normal” dan klik “Buat Konsep SPT”.
  • Maka, akan terbentuk sebuah konsep SPT Tahunan.
  • Untuk mengisi SPT Tahunan, klik logo pensil dari konsep tersebut.

Tonton: Penambang Harap Persetujuan RKAB 2026 Dipercepat agar Operasi Tambang Terjaga

Contoh cara mengisi SPT di Coretax

Artikel ini akan mencontohkan isian SPT Tahunan untuk karyawan yang hanya memiliki penghasilan dari satu pemberi kerja dengan status kewajiban perpajakan sebagai kepala keluarga (KK). Pengisian SPT di Coretax berbeda dengan SPT di DJP Online. Pengisian di Coretax dimulai dengan menjawab pertanyaan pada formulir Induk SPT. Jawaban yang kita pilih akan menentukan langkah selanjutnya, yaitu apakah harus mengisi lampiran atau melanjutkan ke pertanyaan berikutnya.

Mari kita mulai dari bagian header. Isian yang berwarna abu-abu merupakan data yang terprepoluasi secara sistem, sehingga kita tidak perlu mengisi ini. Pada kolom isian “Sumber Penghasilan”, kita dapat memilih “Pekerjaan” dan pada kolom isian “Metode Pembukuan” pilih “Pencatatan”. Pada bagian “A. Identitas Wajib Pajak”, semuanya sudah terisi dari data prepopulated.

Pada bagian “B. Ikhtisar Penghasilan Neto”, pada pertanyaan nomor “1.a Apakah Anda menerima penghasilan dalam negeri dari pekerjaan?” jawab “Ya”. Jawaban tersebut akan memunculkan “Lampiran L-1 Bagian D”. Kita langsung mengisi lampiran tersebut dengan cara klik tambah.  Kolom “Nomor Identitas Pemberi Kerja” diisi dengan NPWP perusahaan pemberi kerja. “Penghasilan Bruto” diisi dari formulir BPA1 nomor 8. “Pengurang Penghasilan Bruto/Biaya” dari formulir BPA1 nomor 12, kemudian klik “Simpan”. Setelah itu, kembali ke Induk SPT. Atas tiga pertanyaan lainnya pada bagian B, kita pilih “Tidak”.

Pada bagian C, isian sudah terisi dengan angka karena kita sudah mengisi Lampiran 1 Bagian D. Untuk pertanyaan nomor 3 terkait kompensasi kerugian dan zakat, kita bisa pilih “Tidak”. Selanjutnya, kita menuju ke pertanyaan nomor 5. Untuk memilih penghasilan tidak kena pajak (PTKP), kita dapat menggunakan menu dropdown list. Misalnya, kita pilih “K/0” karena sudah menikah tetapi belum memiliki tanggungan. Pada  pertanyaan nomor 8, yang kita pilih adalah “Tidak”.

Selanjutnya, kita lanjut ke bagian D. Pada pertanyaan “10a. Apakah terdapat PPh yang telah dipotong/dipungut oleh pihak lain?” kita pilih “Ya”. Atas jawaban tersebut, kita akan diminta untuk mengisi Lampiran 1 Bagian E. Umumnya, data bukti potong dari pemberi kerja sudah ter-prepopulated. Namun, kita harus memastikan kebenarannya dengan cara mencocokkannya dengan bukti potong BPA1 yang kita miliki.

Apabila datanya belum muncul, kita dapat menambahkanya dengan cara klik tambah dan isi formulir bukti potong yang tersedia. NPWP pemotong diisi dengan NPWP yang ada di di bagian C1 pada bagian bawah bukti potong. Nomor bukti pemotongan diisi dengan nomor bukti pemotongan yang terletak di pojok kiri atas bukti potong. Tanggal bukti potong diisi dengan tanggal yang ada di bagian C pada bagian bawah bukti potong. Pada isian jenis pajak, kita pilih PPh Pasal 21. Dasar pengenaan pajak kita isi dari nomor 17 bukti potong. Untuk PPh yang dipotong, kita isi dari bukti potong nomor 21, kemudian klik “Simpan”. Pertanyaan nomor 10c bisa diisi 0 dan pertanyaan nomor 10d dapat diisi dengan “Tidak”.

Baca Juga: KPK Periksa Eks Stafsus Gus Yaqut Jadi Saksi Kasus Korupsi Kuota Haji 2024 

Pada bagian E, untuk pertanyaan nomor 11b, kita pilih “Tidak”. Apabila angka yang kita isikan di SPT sesuai dengan bukti potong BPA1, angka pada pertanyaan nomor 11a dan 11c akan terisi dengan 0. Artinya, SPT tersebut bernilai nihil atau pajak yang terutang sama jumlahnya dengan pajak yang telah dipotong pemberi kerja.

Bagian F tidak perlu diisi karena model SPT yang kita pilih sebelumnya adalah SPT normal. Begitu juga dengan bagian G yang tidak perlu diisi karena status SPT-nya nihil. Pada bagian H, ketiga pertanyaan yang ada dapat diisi dengan pilihan “Tidak”.

Pada bagian I nomor 14a, kita diminta untuk mengisi daftar harta pada Lampiran 1 Bagian A yang sifatnya wajib. Untuk mengisi daftar harta, kita bisa klik tambah atau menggunakan skema impor data. Pada isian nomor 14b, kita jawab “Ya” apabila ada utang dan kemudian isi daftar uutang di Lampiran 1 Bagian B, atau jawab “Tidak” apabila tidak memiliki utang. Untuk pertanyaan lainnya, kita bisa memilih jawaban “Tidak”.

Pada bagian J, kita dapat memilih jawaban “Tidak”. Kemudian, kita lanjutkan ke pernyataan dengan cara memberi ceklis. Untuk penandatangan, kita pilih “Wajib Pajak”.

Setelah semuanya terisi, untuk melaporkan SPT, caranya adalah dengan mengklik “Bayar dan Lapor”. Kemudian, pilih “Kode Otorisasi DJP” pada isian penyedia penandatangan dan masukkan passphrase yang telah kita buat sebelumnya. Setelah itu, klik “Simpan” dan klik “Konfirmasi Tanda Tangan”. SPT yang telah dilaporkan dapat dilihat di menu “SPT Dilaporkan”. Dalam menu itu, kita juga bisa mengunduh bukti penerimaan surat, induk SPT, dan melihat isi SPT yang disampaikan. Selamat mencoba!

Sumber:

https://money.kompas.com/read/2026/01/30/080000026/pelaporan-spt-tahunan-2025-tembus-1-juta-mayoritas-dari-karyawan.

https://www.pajak.go.id/id/artikel/siapkan-akun-coretax-mu-tahun-depan-lapor-spt-tahunan-di-coretax

Siap Perang Lawan AS, Iran Persiapkan 1.000 Drone

Selanjutnya: Furnitur Rotan Kembali Tren di 2026, Ini Cara Cerdas Buat Rumah Terasa Nyaman

Menarik Dibaca: Furnitur Rotan Kembali Tren di 2026, Ini Cara Cerdas Buat Rumah Terasa Nyaman

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×