Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah melihat peluang peningkatan penerimaan negara seiring kenaikan harga sejumlah komoditas global ditengah konflik yang sedang memanas di Timur Tengah.
Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu, menyampaikan bahwa lonjakan harga komoditas secara otomatis akan mendorong penerimaan, bahkan tanpa perubahan kebijakan.
Dengan adanya konflik tersebut, kinerja ekspor crude palm oil (CPO) dan batubara, tembaga serta nikel akan meningkat.
Baca Juga: Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi Jadi 4,7%, Purbaya: World Bank Terlalu Pesimistis
“Ini membuat penerimaan kita pasti akan meningkat, itu satu. Tapi kita juga ingin bahwa harga yang meningkat ini juga disertai dengan tambahan windfall,” tutur Febrio kepada awak media, Kamis (9/4/2026).
Ia menyebut potensi windfall atau keuntungan besar tak terduga yang akibat lonjakan harga komoditas tersebut masih dibahas dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Menurutnya, kenaikan harga komoditas tersebut seharusnya dapat diikuti dengan kontribusi tambahan bagi negara.
“Ada berbagai mineral yang sedang kita lihat bisa bentuknya macam-macam. Ada yang royalti, ada yang bea keluar, nanti kita akan finalkan nanti kalau sudah final baru kita umumkan,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menyebut belum menghitung besaran windfall yang akan diperoleh. Febrio menegaskan, seluruh opsi masih dalam tahap pembahasan dan akan diumumkan setelah ada keputusan final dari pemerintah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













