kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.973.000   129.000   4,54%
  • USD/IDR 16.807   4,00   0,02%
  • IDX 8.147   24,12   0,30%
  • KOMPAS100 1.146   9,03   0,79%
  • LQ45 833   9,07   1,10%
  • ISSI 287   -1,72   -0,60%
  • IDX30 433   3,38   0,79%
  • IDXHIDIV20 520   5,37   1,04%
  • IDX80 128   1,27   1,00%
  • IDXV30 142   0,85   0,61%
  • IDXQ30 140   0,75   0,54%

Premi CDS Naik, Gejolak Mulai Merembet ke Pasar Obligasi dan Surat Utang Pemerintah


Rabu, 04 Februari 2026 / 20:37 WIB
Premi CDS Naik, Gejolak Mulai Merembet ke Pasar Obligasi dan Surat Utang Pemerintah
ILUSTRASI. Imbal Hasil Surat Utang Negara (SUN) Melesat (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak di pasar saham Indonesia mulai merembet ke pasar obligasi, termasuk Surat Berharga Negara (SBN). Meski demikian, dampaknya masih relatif terbatas. Tekanan tersebut tercermin dari kenaikan premi risiko investasi dan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah.

Berdasarkan riset Kontan, per Rabu (4/2/2026), premi risiko investasi atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun naik ke level 76,46 basis poin (bps), dari posisi 75,31 bps pada 29 Januari 2026. Sejalan dengan itu, yield SBN tenor 10 tahun naik ke 6,3%, meski telah melandai dari level tertingginya di akhir Januari yang sempat mencapai 6,36% pada 30 Januari 2026.

Di sisi lain, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat penjualan surat utang senilai Rp36 triliun atau setara US$2,1 miliar dalam lelang pada Selasa. Meski realisasi lelang melampaui target indikatif, rasio penawaran terhadap target (bid-to-target ratio) turun menjadi 2,32, terendah sejak Januari 2025, berdasarkan data Bloomberg.

Tekanan pasar tersebut terjadi seiring evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi kepemilikan saham, yang memicu koreksi tajam di pasar modal domestik dan disebut sebagai kejatuhan terdalam sejak Krisis Keuangan Asia. Investor asing tercatat melakukan jual bersih obligasi Indonesia sebesar US$202 juta pada pekan lalu. Namun, langkah cepat pemerintah mengumumkan rencana reformasi pasar membantu menenangkan sentimen dan mendorong kembalinya arus masuk ke pasar obligasi.

Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto, menilai tekanan di pasar modal memang mulai menjalar ke pasar surat utang, tetapi intensitasnya masih jauh lebih ringan dibandingkan guncangan di pasar saham.

Baca Juga: Pemerintah Perbanyak Terbitkan Surat Utang Jangka Pendek, Ini Plus dan Minusnya

“Saya memandang volatilitas di pasar modal domestik mulai merembet ke pasar SBN, meskipun dampaknya masih relatif terbatas dibandingkan guncangan yang terjadi di pasar saham,” ujar Suhindarto kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).

Ia menjelaskan, tekanan terbesar masih terkonsentrasi di pasar saham. Hal ini tercermin dari koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari level 8.980 pada 27 Januari 2026 menjadi 7.922 pada 2 Februari 2026, disertai aksi jual bersih investor asing sebesar Rp12,40 triliun pada periode 26–29 Januari 2026.

Sebaliknya, tekanan di pasar SBN relatif lebih terkendali. Pada periode yang sama, jual bersih investor asing di pasar surat utang hanya mencapai Rp2,77 triliun.

“Perbedaan volume jual neto yang cukup mencolok antara pasar saham dan pasar SBN menjadi bukti bahwa transmisi risiko ke pasar surat utang masih terkendali,” jelasnya.

Dari sisi imbal hasil, Suhindarto mencatat yield SBN tenor 10 tahun memang naik 26 bps secara bulanan menjadi 6,325%. Namun secara mingguan, yield justru turun 4 bps. Menurutnya, kenaikan yield pada awal 2026 lebih banyak dipicu faktor eksternal, seperti dinamika geopolitik global dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).

Baca Juga: Kemenkeu Pastikan Penerbitan SPN Sesuai Pagu APBN 2026

“Kondisi ini mengindikasikan bahwa minat investor terhadap SBN masih terjaga, sehingga efek rambatan volatilitas tidak bersifat destruktif terhadap stabilitas pasar obligasi,” ujarnya.

Sementara itu, kenaikan CDS Indonesia tenor 5 tahun ke kisaran 77 bps mencerminkan meningkatnya persepsi risiko di mata investor global. Data Pefindo menunjukkan, CDS naik 4,96% secara mingguan dan melonjak 12,33% secara bulanan dibandingkan akhir 2025.

“Tren ini menjadi sinyal bahwa pelaku pasar mulai memperhitungkan ketidakpastian yang lebih tinggi terhadap profil kredit domestik, di tengah tekanan eksternal dan volatilitas pasar modal dalam negeri,” kata Suhindarto.

Ia menambahkan, pergerakan CDS ke depan sangat bergantung pada keberlanjutan arus keluar modal asing. Meski sepanjang 2026 investor asing masih mencatat beli bersih di instrumen SRBI sebesar Rp6,18 triliun, tekanan di pasar saham dan SBN pada akhir Januari tetap menjadi sinyal kewaspadaan.

"Pelaku pasar perlu tetap waspada terhadap pergerakan CDS, mengingat lonjakan dua digit secara bulanan kerap menjadi indikasi awal penyesuaian harga aset keuangan yang lebih luas di pasar negara berkembang. Namun demikian, saya berharap level CDS tetap terjaga di bawah 100,” tegasnya.

Suhindarto menilai, tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia secara fundamental akan menekan yield SBN dalam jangka menengah. Ia memproyeksikan yield SBN tenor 10 tahun melandai secara bertahap menuju 6,01% pada kuartal IV-2026. Kenaikan yield pada akhir Januari dinilainya sebagai anomali jangka pendek akibat lonjakan imbal hasil US Treasury.

Baca Juga: Biayai APBN 2025–2026, Kemenkeu Andalkan Surat Perbendaharaan Negara Tenor Pendek

Berdasarkan konsensus Bloomberg, BI Rate diperkirakan turun dari 4,61% pada kuartal I-2026 menjadi 4,29% pada akhir 2026, atau penurunan sekitar 25–50 bps sepanjang tahun ini. Sejalan dengan itu, biaya penerbitan SBN baru berpotensi menurun sepanjang 2026.

Di sisi lain, Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai pasar SBN Indonesia masih relatif stabil dan lebih tahan terhadap gejolak dibandingkan pasar saham. Menurutnya, daya tarik SBN tetap kuat karena imbal hasil yang menarik serta spread dengan US Treasury tenor 10 tahun yang masih di atas 200 bps.

“Pasar SBN relatif lebih berdaya tahan. Imbal hasilnya masih menarik dan spread dengan obligasi Amerika juga masih lebar,” ujarnya.

Myrdal memperkirakan peluang penurunan BI Rate dalam waktu dekat masih kecil dan baru berpotensi terjadi setelah Agustus 2026, seiring normalisasi permintaan dolar di dalam negeri. Tekanan inflasi yang berpotensi meningkat pada Februari–Maret akibat Ramadan dan Lebaran juga membuat BI cenderung mempertahankan suku bunga acuannya.

Dengan dominasi investor domestik di pasar obligasi, Myrdal menilai risiko gejolak besar di pasar SBN relatif kecil. Ia pun menyimpulkan, pasar SBN pada 2026 berpeluang lebih stabil dibandingkan pasar saham, di tengah ruang penurunan suku bunga global dan domestik yang semakin terbatas.

Baca Juga: Pemerintah Bakal Terbitkan 8 Seri SBN Ritel, Target Pendanaan Hingga Rp 170 Triliun

Selanjutnya: Mahendra Mundur, Siapa Sosok yang Tepat Menjadi Pengganti Ketua DK OJK?

Menarik Dibaca: 5 Pilihan Sofa yang Sebaiknya Dihindari untuk Ruang Tamu Rumah Modern

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×