Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepala Riset Makroekonomi dan Pasar Permata Bank, Faisal Rachman, memproyeksikan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada 2026 akan menyempit dibandingkan realisasi akhir 2025, meskipun tetap berada pada level yang relatif kuat.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), cadangan devisa Indonesia melonjak pada Desember 2025 menjadi US$ 156,5 miliar, meningkat sekitar US$ 6,4 miliar dari posisi US$ 150,1 miliar pada November 2025.
Kenaikan tersebut didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman pemerintah.
Menatap 2026, Faisal menilai pergerakan cadangan devisa akan dipengaruhi oleh dinamika transaksi berjalan dan arus modal global.
Baca Juga: Cadangan Devisa RI Melonjak Akhir Tahun, Jadi US$ 156,5 Miliar Pada Desember 2025
"Kami memperkirakan cadangan devisa akan meningkat tipis, didukung oleh defisit transaksi berjalan (CAD) yang terkendali serta potensi arus masuk modal yang didorong oleh siklus penurunan suku bunga The Fed," ungkap Faisal dikutip Kamis (8/1/2026).
Pihaknya di Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan surplus perdagangan Indonesia masih berlanjut, namun secara bertahap menyempit, seiring pertumbuhan impor yang diproyeksikan terus melampaui ekspor sejalan dengan kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.
"Kinerja ekspor diperkirakan akan kembali normal setelah sebelumnya terjadi percepatan pengiriman ke Amerika Serikat, di tengah perlambatan ekonomi Tiongkok dan normalisasi harga komoditas," ungkap Faisal.
Meski demikian, ekspor Indonesia dinilai masih akan ditopang oleh permintaan yang relatif stabil dari mitra dagang utama lainnya serta perluasan jaringan perjanjian perdagangan. Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik global menjadi risiko yang berpotensi menekan volume perdagangan dunia.
Faisal memproyeksikan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) melebar secara moderat dari sekitar minus 0,11% terhadap PDB pada 2025 menjadi minus 0,59% terhadap PDB pada 2026.
Baca Juga: Ekonom BCA Proyeksikan Cadangan Devisa RI Desember 2025 Naik di Atas US$150,1 Miliar
Meski melebar, level tersebut dinilai masih terkendali dan mencerminkan posisi eksternal Indonesia yang relatif stabil, sehingga memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan bias pelonggaran kebijakan dalam jangka menengah hingga panjang.
Sementara itu, arus portofolio diperkirakan masih berada di bawah tekanan dalam jangka pendek akibat ketidakpastian global yang berkelanjutan, terutama dari ketegangan geopolitik dan sengketa perdagangan yang mendorong kondisi risk-off.
Tekanan tersebut menurutnya berpotensi memicu arus keluar modal dan pelemahan nilai tukar Rupiah, sehingga BI mungkin perlu kembali mengedepankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas. "Meski demikian, prospek arus masuk dalam jangka menengah tetap terjaga," ungkap Faisal.
Di sisi lain, prospek pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) pada 2026 dinilai masih terbuka, meskipun ketidakpastian tetap tinggi akibat tekanan inflasi dari kenaikan tarif dan sinyal pelemahan pasar tenaga kerja AS.
Kejelasan arah kebijakan suku bunga The Fed diharapkan dapat memulihkan selera risiko global dan mendorong aliran dana ke aset berisiko, termasuk ke Indonesia.
"Ini ditopang oleh fundamental ekonomi domestik yang tangguh serta potensi perbaikan stabilitas politik domestik," terang Faisal.
Baca Juga: Cadangan Devisa RI Diproyeksi Meningkat Jadi US$ 152,1 Miliar pada Desember 2025
Secara keseluruhan, Faisal memperkirakan cadangan devisa Indonesia berada di kisaran USD157–159 miliar pada akhir 2026, sementara nilai tukar Rupiah diproyeksikan ditutup pada level Rp 16.675 – Rp 16.775 per dolar AS, dibandingkan posisi Rp 16.690 per dolar AS pada akhir 2025.
Sebagai informasi, posisi cadangan devisa pada Desember 2025 yang sebesar US$ 156,5 milliar tersebut dinilai masih sangat memadai, karena mampu membiayai 6,4 bulan impor, atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Dari sisi pembiayaan, pemerintah Indonesia juga berhasil menerbitkan sukuk global senilai US$ 2,0 miliar, yang terdiri dari US$ 1,1 miliar bertenor 5 tahun dan US$ 0,9 miliar bertenor 10 tahun. Penyelesaian transaksi sukuk global tersebut dilakukan pada 1 Desember 2025.
Baca Juga: Cadangan Devisa Berpeluang Naik Menjadi US$ 150 Miliar–US$ 155 Miliar pada Awal 2026
Selain itu, pasar keuangan domestik mencatat arus masuk bersih portofolio pada Desember 2025.
Pasar obligasi membukukan arus masuk bersih sebesar US$ 0,39 miliar, pasar saham mencatat arus masuk bersih US$ 0,73 miliar, sementara instrumen SRBI mencatat arus masuk bersih US$ 1,62 miliar. Dengan demikian, total arus masuk bersih portofolio mencapai US$ 2,74 miliar.
Selanjutnya: 4 Alasan Tidur Nyenyak Bagus untuk Kesehatan Jantung
Menarik Dibaca: 4 Alasan Tidur Nyenyak Bagus untuk Kesehatan Jantung
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













