kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025 Berpotensi Tertekan Imbas Banjir di Sumatra


Senin, 08 Desember 2025 / 05:45 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025 Berpotensi Tertekan Imbas Banjir di Sumatra
ILUSTRASI. Banjir dan longsor di Sumatra diperkirakan menurunkan pertumbuhan Q4 2025 menjadi 4,73% dari proyeksi 5%. ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/app/nz


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV-2025 berpotensi tertekan ke bawah 5%. Salah satu pemicunya adalah adanya bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak 23 November 2025.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) melaporkan, bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatra mulai terjadi sejak 23 November 2025. Hal ini dipicu oleh hujan ekstrem sejak tanggal 18-20 November 2025. 

Kondisi ini menyebabkan aktivitas ekonomi di sejumlah wilayah terdampak lumpuh total selama dua pekan terakhir. Bahkan hingga awal Desember 2025 masih terdapat banyak wilayah yang terisolasi dan belum tersentuh bantuan karena terhambat akses jalan. Masyarakat terdampak kini sangat mengandalkan dukungan pemerintah dan berbagai pihak lainnya.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan, gangguan ekonomi yang terjadi memang bersifat sementara. Namun dampaknya tetap signifikan karena Sumatra berkontribusi sekitar 22% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Baca Juga: Puncak Musim Hujan 2026, Ancaman Banjir dan Longsor Besar Mengintai RI

“Dengan terganggunya aktivitas ekonomi selama 10–15 hari di wilayah terdampak, tercipta kontraksi jangka pendek melalui terputusnya rantai logistik, tertahannya output pertanian dan industri berbasis sumber daya, serta melemahnya konsumsi rumah tangga akibat hilangnya pendapatan harian, khususnya di sektor informal,” jelas Rizal kepada Kontan, Minggu (7/12/2025).

Ia menambahkan, tekanan ekonomi akan semakin besar jika proses pemulihan berlangsung lebih dari 15 hari. Meski tidak mengubah arah pertumbuhan tahunan, bencana ini cukup menekan momentum pertumbuhan kuartalan dan meningkatkan volatilitas ekonomi regional maupun nasional.

Rizal menjelaskan bahwa stimulus fiskal jangka pendek seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan bantuan sosial (bansos) hanya mampu menjaga daya beli minimum, dengan efek pengganda yang terbatas dalam satu kuartal. Stimulus lain, seperti program magang nasional, dinilai lebih relevan untuk perbaikan struktural jangka menengah dan bukan instrumen yang efektif untuk merespons perlambatan ekonomi Kuartal IV.

“Tanpa akselerasi belanja produktif dan pemulihan sektor riil di wilayah terdampak bencana, kontribusi stimulus terhadap pertumbuhan Kuartal IV akan tetap minim,” ujar Rizal.

Menurutnya, dalam skenario tanpa bencana, pertumbuhan ekonomi Kuartal IV-2025 dapat mencapai sekitar 5%. Namun disrupsi akibat banjir dan longsor diperkirakan memangkas pertumbuhan sekitar 0,27%, sehingga realisasi pertumbuhan kemungkinan berada di kisaran 4,73%.

Baca Juga: BNPB Laporkan 921 Korban Jiwa Banjir Sumatra-Aceh, Ribuan Mengungsi

“Sehingga realisasi pertumbuhan berpotensi berada di bawah level tersebut,” tambahnya.

Rizal menekankan bahwa stimulus fiskal pemerintah hanya mampu menahan perlambatan ekonomi agar tidak jatuh lebih dalam, namun tidak cukup kuat untuk sepenuhnya menutup kehilangan output.

“Pertumbuhan Kuartal IV tetap positif, tetapi kualitasnya lebih rapuh dan berisiko menimbulkan tekanan pasokan di awal tahun berikutnya,” ujarnya.

Sebagai informasi, alih fungsi hutan menjadi salah satu faktor yang memperparah risiko bencana banjir bandang dan longsor di tiga provinsi tersebut. Greenpeace Indonesia mencatat hutan alam Sumatra kini hanya tersisa sekitar 11,6 juta hektare atau 24,4% dari total luas pulau, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×