Sumber: Bloomberg | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana Indonesia Sovereign Wealth Fund, Danantara, untuk menerbitkan obligasi dolar Amerika Serikat (AS) berjangka panjang diperkirakan tidak akan terealisasi dalam waktu dekat. Kondisi pasar obligasi global yang tengah bergejolak membuat proses penerbitan utang menjadi semakin menantang.
Menurut sumber Bloomberg mengetahui pembahasan tersebut, Danantara pekan lalu telah menunjuk sejumlah bank untuk mempersiapkan potensi penerbitan obligasi dolar berjangka panjang. Namun, langkah tersebut harus mempertimbangkan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang terjadi tak lama setelah penunjukan bank-bank tersebut.
Situasi pasar kembali memburuk pada pekan ini setelah bank sentral AS (Federal Reserve) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Kekhawatiran bahwa Ketua The Fed, Kevin Warsh, belum bergerak cukup cepat untuk mengendalikan inflasi turut mendorong yield US Treasury tenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam 19 tahun.
Baca Juga: Mentan Ungkap Dugaan Mafia Beras Fortifikasi, Potensi Rugikan Negara Rp 56 Triliun
Dalam kondisi tersebut, investor dikabarkan menginginkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan target Danantara untuk obligasi dolar bertenor 20 tahun dan 30 tahun. Perbedaan ekspektasi itu membuat Danantara bersama para penasihatnya memilih menunggu waktu yang lebih kondusif sebelum melanjutkan rencana penerbitan obligasi internasional keduanya.
Direktur Fixed Income Asia UOB Asset Management, Melvin Chan, mengatakan terdapat ketidaksesuaian antara ekspektasi investor dan target harga yang diinginkan Danantara. Berdasarkan diskusi dengan pelaku pasar, investor mengharapkan yield di kisaran tinggi 6%, sementara Danantara menargetkan kisaran rendah 6%.
Menurut Chan, penerbit obligasi memang selalu berupaya memilih momentum terbaik untuk masuk ke pasar dan tidak jarang menunda maupun melanjutkan kembali rencana penerbitan. Namun, tantangan tersebut menjadi lebih besar bagi penerbit obligasi berjangka panjang karena instrumen tersebut lebih sensitif terhadap perubahan yield US Treasury dibandingkan obligasi bertenor lebih pendek.
Gejolak di pasar obligasi juga membuat banyak penerbit lain menahan diri. Penerbitan obligasi dolar dari kawasan Asia tercatat relatif sepi pada pekan ini. Saat mengumumkan mandat kepada bank-bank penjamin emisi, Danantara sendiri juga tidak menyebutkan jadwal pasti penerbitan obligasi berjangka panjang tersebut
Managing Director Global Business Development, Corporate Finance & Investments Danantara Investment Management (DIM), Djamal Attamimi, mengatakan perusahaan selalu mempertimbangkan berbagai aspek dalam mengevaluasi peluang pendanaan, termasuk durasi, eksposur mata uang, dan tujuan pembiayaan.
Ia menegaskan, sejalan dengan mandat jangka panjang dan kerangka manajemen risiko yang prudent, DIM terus mengevaluasi peluang pendanaan dan akan mengakses pasar modal internasional ketika kondisi pasar dinilai tepat serta sejalan dengan kepentingan terbaik institusi dan para pemangku kepentingan.
Baca Juga: Harga BBM Pertamina Non-Subsidi Turun per 1 Agustus 2026, Cek Daftar Harga Pertamax
Di sisi lain, mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo turut memberikan tekanan tambahan terhadap kepercayaan investor terhadap Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan berupa pelemahan nilai tukar rupiah serta meningkatnya defisit transaksi berjalan.
Head of Asia Credit Strategy CreditSights Singapore, Zerlina Zeng, menilai kondisi tersebut membuat waktu penerbitan obligasi Danantara menjadi kurang menguntungkan. Menurutnya, sentimen investor terhadap obligasi dolar Indonesia semakin melemah setelah pengunduran diri gubernur bank sentral.
Selain faktor kondisi makroekonomi, investor juga masih berhati-hati terhadap Danantara karena lembaga tersebut masih tergolong baru. Zeng menyebut investor mempertanyakan rekam jejak investasi dan operasional Danantara yang belum teruji sepenuhnya, termasuk aspek tata kelola dan transparansi lembaga tersebut.
Danantara sendiri baru berdiri sedikit lebih dari satu tahun. Lembaga pengelola kekayaan negara ini mengawasi ratusan perusahaan milik negara dan mengendalikan aset yang oleh pemerintah diperkirakan mencapai sekitar US$ 900 miliar.
Pada bulan lalu, Danantara berhasil memasuki pasar obligasi internasional untuk pertama kalinya dengan menghimpun dana sebesar US$ 1,5 miliar melalui penerbitan obligasi dolar bertenor lima tahun dan 10 tahun.
Penerbitan obligasi internasional berikutnya dinilai akan menjadi ujian penting bagi Danantara. Keberhasilan transaksi tersebut dapat menjadi sinyal kepercayaan investor bahwa Danantara mampu menjadi kendaraan pendanaan jangka panjang yang kredibel, bukan sekadar institusi yang kinerjanya bergantung pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Melvin Chan dari UOB Asset Management mengatakan investor sebenarnya akan menyambut baik apabila Danantara tetap memasuki pasar dalam kondisi saat ini, meskipun kemungkinan harus menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko yang dinilai meningkat.
Sebelumnya, Danantara telah menunjuk sejumlah bank internasional, yaitu Citigroup, HSBC Holdings, JPMorgan Chase, Mitsubishi UFJ Financial Group, dan Standard Chartered, untuk mengatur penerbitan obligasi berukuran acuan (benchmark-sized offering). Namun, belum ada kepastian kapan obligasi dolar berjangka panjang tersebut akan kembali ditawarkan ke pasar karena Danantara masih menunggu kondisi yang lebih mendukung.
Baca Juga: Meski Tanpa Hak Suara, Kehadiran Danantara di KSSK Tetap Ada Konsekuensi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
