kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Perkuat Ketahanan Energi, RI-Rusia Bidik Kerja Sama Nuklir Hingga Kilang Tuban


Kamis, 14 Mei 2026 / 13:03 WIB
Perkuat Ketahanan Energi, RI-Rusia Bidik Kerja Sama Nuklir Hingga Kilang Tuban
ILUSTRASI. Indonesia perkuat energi nasional! Kerja sama strategis dengan Rusia hadirkan komitmen investasi hulu migas hingga nuklir (Dok/Pertamina)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia terus memperluas kerja sama strategis internasional di sektor energi guna memperkuat ketahanan energi nasional. Dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia-Rusia yang digelar di Kazan, Rusia, sektor energi dan sumber daya mineral menjadi salah satu fokus utama pembahasan kedua negara.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung yang mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, kerja sama tersebut mencakup sejumlah proyek strategis.

Mulai dari tindak lanjut rencana pembelian minyak, pengembangan ladang minyak dan gas bumi (migas), perkembangan proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban, hingga penjajakan kerja sama energi nuklir.

"Kerja sama di sektor energi (dengan Rusia) telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil. Hal ini sejalan dengan prioritas nasional dalam memperkuat ketahanan energi, baik untuk bahan bakar minyak maupun listrik," ujarnya melalui keterangan resmi, Kamis (14/5/2026).

Baca Juga: Bank Sentral Global Borong 244 Ton Emas Kuartal I-2026, Bank Indonesia Beli 2 Ton

Menurut Yuliot, pemerintah tetap berkomitmen mendorong pengembangan energi bersih sejalan dengan target dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

Dalam dokumen perencanaan tersebut, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 70 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, sekitar 40 GW atau sekitar 62% akan berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT).

Selain itu, pemerintah juga mulai memetakan pengembangan energi nuklir sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi nasional. Langkah ini dilakukan untuk mendukung pasokan listrik jangka panjang sekaligus mempercepat transisi energi.

"Untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, ditargetkan pembangunan dua unit dengan total kapasitas 500 MW," jelasnya.

Baca Juga: Investor Mulai Uji Ketahanan Ekonomi RI, Bukan Lagi Sekadar Angka Pertumbuhan

Rangkaian pertemuan SKB ke-14 Indonesia-Rusia tersebut menghasilkan Agreed Minutes yang memuat sejumlah tindak lanjut kerja sama di sektor energi dan sumber daya mineral antara kedua negara.

Pembahasan mencakup peluang kerja sama di bidang minyak dan gas bumi, LNG dan LPG, pengembangan energi baru terbarukan, pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai, hilirisasi dan metalurgi mineral, hingga standardisasi industri migas dan energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...

Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×