Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja penjualan eceran pada April 2026 mengalami perlambatan dibandingkan Maret 2026, baik secara bulanan maupun secara tahunan. Perlambatan ini sejalan dengan normalisasi permintaan masyarakat setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah.
Berdasarkan Survei Bank Indonesia (BI), Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 tercatat sebesar 226,9. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan IPR Maret 2026 yang mencapai 256,7 dan juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 232,4 pada April 2025.
Secara bulanan, IPR April 2026 terkontraksi 11,6% month to month (mtm), berbalik dari pertumbuhan 10,3% (mtm) pada Maret 2026.
Baca Juga: Bank Dunia Proyeksi Ekonomi Indonesia Melambat di 2026, Hanya Tumbuh 5%
Penurunan terjadi pada mayoritas kelompok barang, dengan kontraksi terdalam dialami Kelompok Barang Lainnya yang turun 16,6% (mtm), diikuti Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi yang terkontraksi 12,5% (mtm), serta Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang turun 12,3% (mtm).
Pelemahan tersebut mencerminkan normalisasi aktivitas konsumsi masyarakat setelah tingginya permintaan pada periode Ramadan dan Idulfitri.
Meski demikian, secara tahunan masih terdapat sejumlah kelompok yang mencatatkan pertumbuhan dan menjadi penopang penjualan eceran pada April 2026.
Kelompok Suku Cadang dan Aksesori mencatat indeks 157,5 atau tumbuh 14,7% (year on year/yoy), Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya mencatat indeks 82,8 atau tumbuh 0,6% (yoy), serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi dengan indeks 60,1 atau tumbuh 0,7% (yoy).
Di sisi lain, sejumlah kelompok masih berada di zona kontraksi. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mencatat indeks 322,0 atau terkontraksi 3,8% (yoy), Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi mencatat indeks 68,0 atau turun 26,4% (yoy), sedangkan Subkelompok Sandang mencatat indeks 88,9 atau terkontraksi 7,0% (yoy).
Baca Juga: DJP Jaring 2,75 Juta Wajib Pajak Baru di 2026, Kontribusi Capai Rp 726 Miliar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













