Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya pemerintah mendorong swasembada kedelai dinilai tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Pemerintah juga perlu memastikan kedelai lokal memiliki harga dan kualitas yang mampu bersaing dengan produk impor agar dapat terserap industri dalam negeri.
Pengamat Pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian mengatakan, pengalaman program swasembada kedelai dalam dua dekade terakhir menunjukkan sejumlah persoalan yang membuat target tersebut sulit tercapai.
Menurut dia, salah satu persoalan utama adalah lemahnya insentif bagi petani. Selain itu, pengembangan riset dan teknologi (R&D) kedelai masih terbatas, sementara lahan pertanian lebih menguntungkan jika digunakan untuk komoditas lain.
“Pengalaman dua dekade sebelumnya menunjukkan program swasembada kedelai sering mandek karena insentif petani lemah, kurangnya R&D dan lahan lebih menguntungkan untuk komoditas lain daripada ditanami kedelai,” ujar Eliza kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).
Baca Juga: Indonesia Sulit Mencapai Swasembada Kedelai, Serikat Petani: Tak Ada Kepastian Pasar
Karena itu, Eliza menilai roadmap swasembada kedelai harus disusun secara realistis dan tidak hanya berorientasi pada pencapaian target produksi.
Menurutnya, sebelum melakukan peningkatan produksi secara masif, pemerintah perlu memastikan kedelai yang ditanam petani nantinya dapat diserap pasar secara optimal. Harga dan kualitas kedelai lokal juga harus sesuai dengan kebutuhan industri, khususnya industri tahu dan tempe.
“Jangan sampai sudah menggelontorkan dana triliunan, tapi berakhir hanya dengan menghasilkan kedelai yang kurang diminati konsumen,” katanya.
Eliza menyoroti kualitas kedelai lokal yang saat ini masih menjadi tantangan. Ukuran kedelai produksi dalam negeri cenderung lebih kecil dibandingkan kedelai asal Amerika Serikat (AS) yang banyak digunakan oleh industri.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat peningkatan produksi saja tidak otomatis membuat industri beralih menggunakan kedelai lokal.
“Karena kalau dipaksakan menggunakan kedelai dalam negeri dengan harga lebih mahal, para pengusaha harus menyesuaikan harga ke konsumen untuk menjaga margin mereka,” jelas Eliza.
Selain kualitas, persoalan harga juga menjadi tantangan bagi kedelai lokal. Eliza mencatat harga kedelai asal AS yang telah sampai di Indonesia berada di kisaran US$418 per metrik ton.
Baca Juga: Aturan Baru Terbit, Impor Gandum Pakan hingga Bungkil Kedelai Dibatasi
Dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp6.600 per kilogram. Sementara harga kedelai di dalam negeri dapat mencapai Rp9.000-Rp10.000 per kilogram, tergantung lokasi.
Eliza menilai disparitas tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut, terutama terkait struktur biaya impor dan margin dalam rantai perdagangan kedelai.
“Cost structure impor ini perlu dievaluasi. Karena disparitas harga impor dan dalam negeri cukup besar, tapi kalau dijual ke pasar tidak jauh beda,” ujarnya.
Menurutnya, produsen tahu dan tempe pada akhirnya akan memilih bahan baku berdasarkan kombinasi harga dan kualitas. Karena itu, kedelai lokal perlu memiliki keunggulan yang jelas agar dapat terserap industri.
“Produsen tahu tempe akan mencari harga yang lebih murah dan kualitas yang terbaik. Kalau kita hanya menang di harga tapi tidak di kualitasnya, maka ini juga tidak akan terserap optimal oleh industri,” kata Eliza.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Harga Kedelai Masih Wajar, Meski Tekanan Impor Membayangi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














