kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.039.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.779   -44,00   -0,26%
  • IDX 8.255   -67,04   -0,81%
  • KOMPAS100 1.159   -10,14   -0,87%
  • LQ45 837   -6,00   -0,71%
  • ISSI 293   -3,46   -1,17%
  • IDX30 442   -4,07   -0,91%
  • IDXHIDIV20 532   -3,44   -0,64%
  • IDX80 129   -1,03   -0,79%
  • IDXV30 145   -0,84   -0,58%
  • IDXQ30 142   -1,32   -0,92%

Jauh di Atas Kebutuhan, Indonesia Bakal Kesulitan Penuhi Janji Impor Pertanian AS


Kamis, 26 Februari 2026 / 10:59 WIB
Jauh di Atas Kebutuhan, Indonesia Bakal Kesulitan Penuhi Janji Impor Pertanian AS
ILUSTRASI. Butiran Kedelai Impor Asal Amerika (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA/SINGAPURA. Pemerintah Indonesia dinilai berpotensi menghadapi tantangan besar dalam memenuhi komitmen peningkatan impor produk pertanian dari Amerika Serikat (AS) yang disepakati dalam perjanjian dagang terbaru kedua negara. 

Para pelaku perdagangan menilai lonjakan target impor, terutama untuk bungkil kedelai, terlalu besar dibandingkan pola impor dan kebutuhan domestik saat ini.

Kesepakatan dagang tersebut rampung pekan lalu dan memberikan penurunan tarif masuk AS terhadap sejumlah produk asal Indonesia menjadi 19% dari sebelumnya 32%. 

Sejumlah komoditas utama Indonesia seperti minyak sawit, kakao, dan karet bahkan dibebaskan dari bea masuk. Sebagai imbal balik, Indonesia menyatakan kesediaannya meningkatkan impor berbagai komoditas pertanian asal AS secara signifikan.

Baca Juga: Para Pedagang: Indonesia Berpotensi Kesulitan Penuhi Janji Lonjakan Impor Pangan AS

Dalam kesepakatan itu, Indonesia berjanji menaikkan impor gandum AS menjadi 2 juta metrik ton per tahun, dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 1,1 juta ton. 

Impor kedelai juga ditargetkan melonjak menjadi 3,5 juta ton per tahun dari sebelumnya 2,2 juta ton. Namun, komitmen paling mencolok terdapat pada bungkil kedelai yang disepakati naik drastis menjadi 3,8 juta ton, jauh di atas impor aktual yang pada 2025 baru mencapai 216.257 ton.

Seorang pedagang dari perusahaan perdagangan internasional yang memasok gandum dan pakan ternak ke Indonesia menyebut ruang peningkatan impor gandum dari AS relatif terbatas. 

"Para penggiling gandum Indonesia sebenarnya sudah meningkatkan pembelian gandum AS. Pada 2025 volumenya mencapai 1,1 juta ton, naik dari 750.000 ton setahun sebelumnya," ujarnya. Ia menambahkan, paling optimistis, pembelian bisa naik ke kisaran 1,25 hingga 1,3 juta ton pada 2026.

Baca Juga: Indonesia Bersiap Impor Minyak AS: Strategi Baru di Tengah Negosiasi Dagang

Untuk komoditas kedelai, Indonesia selama ini memang sangat bergantung pada impor guna memenuhi kebutuhan bahan baku tahu dan tempe. Menurut data asosiasi importir, konsumsi kedelai nasional berada di kisaran 2,7 juta hingga 2,9 juta ton per tahun dan hampir seluruhnya berasal dari impor. 

Dengan kondisi tersebut, komitmen pembelian 3,5 juta ton kedelai AS per tahun dinilai melampaui kebutuhan domestik.

Ketua Akindo, Hidayatullah Suralaga, menegaskan perlunya kehati-hatian dalam merealisasikan komitmen tersebut. “Komitmen untuk membeli 3,5 juta ton per tahun perlu dinilai secara realistis agar tidak melebihi permintaan domestik dan mengganggu keseimbangan pasokan,” ujarnya.

Tantangan yang lebih besar muncul pada komitmen impor bungkil kedelai. Meski impor dari AS pada 2025 naik sekitar 50% dibanding tahun sebelumnya, volumenya masih sangat kecil jika dibandingkan target 3,8 juta ton. 

Para pedagang menilai, untuk memenuhi janji tersebut, pemerintah kemungkinan akan mengandalkan peran badan usaha milik negara.

Seorang pedagang biji-bijian berbasis di Singapura mengatakan, Indonesia dapat mengarahkan Berdikari untuk membeli bungkil kedelai dari AS dalam jumlah besar, meskipun harganya lebih mahal dibandingkan pasokan dari negara lain. Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga hubungan dagang dengan Washington.

Baca Juga: Batik Indonesia Raup Potensi Transaksi Rp 4,15 Miliar di Paris

Sejak akhir tahun lalu, pemerintah Indonesia  telah mengalihkan seluruh kewenangan impor pakan ternak dari swasta kepada Berdikari mulai 2026. Berdikari ditugaskan mengimpor sekitar 5 juta ton bungkil kedelai untuk memenuhi kebutuhan pabrik pakan dan peternak ayam skala kecil.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyatakan penugasan tersebut telah ditetapkan dan akan menjadi bagian dari kebijakan stabilisasi pasokan pakan nasional. 

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Berdikari, Hasbi Al-Islahi, menyebut persiapan impor masih menunggu terbitnya peraturan pemerintah yang ditargetkan keluar pada Maret mendatang.

Baca Juga: Produk Kopi Indonesia Raup Potensi Transaksi Rp 52,47 Miliar di Korea Selatan

Sebagai gambaran, total impor bungkil kedelai Indonesia pada 2025 mencapai 5,96 juta ton dari berbagai negara. Selain gandum, kedelai, dan bungkil kedelai, dalam kesepakatan dengan Washington Indonesia juga menyetujui pembelian 100.000 ton jagung, 163.000 ton kapas, serta sejumlah komoditas lain seperti daging sapi dan buah-buahan.

Dengan lonjakan komitmen impor tersebut, para pelaku pasar menilai realisasi kesepakatan akan sangat bergantung pada kesiapan lembaga pelaksana, penyesuaian regulasi, serta kecocokan antara volume impor dan kebutuhan riil di dalam negeri.

Selanjutnya: Pre-order Samsung Galaxy S26, S26+, dan S26 Ultra Indonesia: Gratis Upgrade Memori

Menarik Dibaca: Promo HokBen Payday Deals Cuma 4 Hari: Makan Berdua Mulai Rp 40 Ribuan, Hematnya Pol!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×